<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Putungelahne's Weblog</title>
	<atom:link href="http://putungelahne.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://putungelahne.wordpress.com</link>
	<description>Tu nak Lee</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Sep 2008 13:15:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Manfaat pisang oleh deviyana budiman</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/manfaat-pisang/#comment-17</link>
		<dc:creator>deviyana budiman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 13:15:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/manfaat-pisang/#comment-17</guid>
		<description>saya juga pernah punya pengalaman ttg pisang.stau saya pisang itu mngandung banyak kalium, n kl sakit jantung jgn slalu makan pisang. cek dulu darah penderita cos anjing saya juga sakit jantung dan ga boleh makan  pisang karena kalium nya terlalu tinggi dan kalau kalium terlalu tinggi bisa menyebabkan kejang2, stroke.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya juga pernah punya pengalaman ttg pisang.stau saya pisang itu mngandung banyak kalium, n kl sakit jantung jgn slalu makan pisang. cek dulu darah penderita cos anjing saya juga sakit jantung dan ga boleh makan  pisang karena kalium nya terlalu tinggi dan kalau kalium terlalu tinggi bisa menyebabkan kejang2, stroke.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Manfaat pisang oleh meri</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/manfaat-pisang/#comment-16</link>
		<dc:creator>meri</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:44:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/manfaat-pisang/#comment-16</guid>
		<description>pisangnya bisa mengobati atau mencegah stroke doang??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pisangnya bisa mengobati atau mencegah stroke doang??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh made bawa</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-15</link>
		<dc:creator>made bawa</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 12:51:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-15</guid>
		<description>pak saya mau tanya siapa pembuat atau penyusun mantram tri sandya?? Dari dulu saya bertanya-tanya kok saya cuma bisa mengucapkan tapi tidak tau siapa pembuatnya?/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak saya mau tanya siapa pembuat atau penyusun mantram tri sandya?? Dari dulu saya bertanya-tanya kok saya cuma bisa mengucapkan tapi tidak tau siapa pembuatnya?/</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Healty life oleh putu</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/salam/#comment-14</link>
		<dc:creator>putu</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 15:07:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/salam/#comment-14</guid>
		<description>&lt;strong&gt;BERKHASIAT OBAT&lt;/strong&gt;

Di luar dugaan kita, cabai sesungguhnya merupakan bahan makanan kaya gizi.Cabai rawit banyak mengandung vitamin C dan betakaroten (provitamin A), mengalahkan buah-buahan populer seperti mangga, nanas, pepaya semangka. Bahkan kadar mineralnya, terutama kalsium dan fosfor, mengungguli ikan segar. Sementara kandungan vitamin C cabai hijau justru jauh lebih besar daripada vitamin C cabai rawit.

	Cabai Rawit	Cabai Merah	Cabai Hijau	Cabai Merah Kering
Energi (Kal)	103	31	23	311
Protein (g)	4,7	1,0	0,7	15
Lemak (g)	2,4	0,3	0,3	6,2
Karbohidrat (g)	19,9	7,3	5,2	61,8
Kalsium (mg)	45	29	14	160
Fosfor (mg)	85	24	23	370
Vitamin A (SI)	11	470	260	576
Vitamin C (mg)	70	181	84	50
				

Dibandingkan paprika dengan warna lain, paprika merah kandungan vitamin C-nya dua kali lipat lebih banyak. Kadar betakarotennya pun lebih unggul, kadarnya sembilan kali lipat paprika hijau. Sebagian besar kandungan betakaroten paprika terkonsentrasi pada bagian di dekat kulit.

Zat yang membuat cabai terasa pedas adalah kapsaisin, yang tersimpan dalam&quot;urat&quot; putih cabai, tempat melekatnya biji. Karena itu, untuk mengurangi rasa pedasnya, biasanya cabai merah dibuang bijinya berikut uratnya. Nah, senyawa kapsaisin inilah yang membuat cabai bikin ketagihan sekaligus berkhasiat obat. Kalau kita terbiasa makan pedas, kurang nafsu rasanya jika tak ada sambal atau cabai. Jangan heran, karena kapsaisin
cabai memang bersifat stomakik, yakni dapat meningkatkan nafsu makan. Belum
lagi kemampuannya merangsang produksi hormon endorfin, yang mampu
membangkitkan sensasi kenikmatan. Memang betul juga nasihat agar kita makan pedas di saat kepala pusing. Rasa pedas yang ditimbulkan kapsaisin dapat menghalangi aktivitas otak ketika menerima sinyal rasa sakit dari pusat sistem saraf. Terhambatnya perjalanan sinyal ini akan mengurangi rasa sakit yang kita derita. Pada saat yang sama kapsaisin akan mengencerkan lendir, sehingga dapat melonggarkan penyumbatan pada tenggorokan dan hidung, termasuk sinusitis. Kapsaisin bersifat antikoagulan, dengan cara menjaga darah tetap encer
dan mencegah terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. Kegemaran makan cabai memperkecil kemungkinan menderita penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis), sehingga mencegah munculnya serangan stroke dan jantung koroner, serta impotensi. Sadarkah kita bahwa bahan utama pembuatan param kocok adalah cabai? Ya, kapsaisinnya memang berkhasiat menghilangkan pegal dan ngilu rematik. Di saat tubuh kedinginan yang sangat, sehingga kaki mengeriput dan terasa membeku,oleskan cabai pada kaki serta jari-jemari dan sela-selanya. Cara yang sama bisa digunakan untuk mengobati bengkak dan bisul, karena
kapsaisin cabai ternyata juga bersifat antiradang.

http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BERKHASIAT OBAT</strong></p>
<p>Di luar dugaan kita, cabai sesungguhnya merupakan bahan makanan kaya gizi.Cabai rawit banyak mengandung vitamin C dan betakaroten (provitamin A), mengalahkan buah-buahan populer seperti mangga, nanas, pepaya semangka. Bahkan kadar mineralnya, terutama kalsium dan fosfor, mengungguli ikan segar. Sementara kandungan vitamin C cabai hijau justru jauh lebih besar daripada vitamin C cabai rawit.</p>
<p>	Cabai Rawit	Cabai Merah	Cabai Hijau	Cabai Merah Kering<br />
Energi (Kal)	103	31	23	311<br />
Protein (g)	4,7	1,0	0,7	15<br />
Lemak (g)	2,4	0,3	0,3	6,2<br />
Karbohidrat (g)	19,9	7,3	5,2	61,8<br />
Kalsium (mg)	45	29	14	160<br />
Fosfor (mg)	85	24	23	370<br />
Vitamin A (SI)	11	470	260	576<br />
Vitamin C (mg)	70	181	84	50</p>
<p>Dibandingkan paprika dengan warna lain, paprika merah kandungan vitamin C-nya dua kali lipat lebih banyak. Kadar betakarotennya pun lebih unggul, kadarnya sembilan kali lipat paprika hijau. Sebagian besar kandungan betakaroten paprika terkonsentrasi pada bagian di dekat kulit.</p>
<p>Zat yang membuat cabai terasa pedas adalah kapsaisin, yang tersimpan dalam&#8221;urat&#8221; putih cabai, tempat melekatnya biji. Karena itu, untuk mengurangi rasa pedasnya, biasanya cabai merah dibuang bijinya berikut uratnya. Nah, senyawa kapsaisin inilah yang membuat cabai bikin ketagihan sekaligus berkhasiat obat. Kalau kita terbiasa makan pedas, kurang nafsu rasanya jika tak ada sambal atau cabai. Jangan heran, karena kapsaisin<br />
cabai memang bersifat stomakik, yakni dapat meningkatkan nafsu makan. Belum<br />
lagi kemampuannya merangsang produksi hormon endorfin, yang mampu<br />
membangkitkan sensasi kenikmatan. Memang betul juga nasihat agar kita makan pedas di saat kepala pusing. Rasa pedas yang ditimbulkan kapsaisin dapat menghalangi aktivitas otak ketika menerima sinyal rasa sakit dari pusat sistem saraf. Terhambatnya perjalanan sinyal ini akan mengurangi rasa sakit yang kita derita. Pada saat yang sama kapsaisin akan mengencerkan lendir, sehingga dapat melonggarkan penyumbatan pada tenggorokan dan hidung, termasuk sinusitis. Kapsaisin bersifat antikoagulan, dengan cara menjaga darah tetap encer<br />
dan mencegah terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. Kegemaran makan cabai memperkecil kemungkinan menderita penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis), sehingga mencegah munculnya serangan stroke dan jantung koroner, serta impotensi. Sadarkah kita bahwa bahan utama pembuatan param kocok adalah cabai? Ya, kapsaisinnya memang berkhasiat menghilangkan pegal dan ngilu rematik. Di saat tubuh kedinginan yang sangat, sehingga kaki mengeriput dan terasa membeku,oleskan cabai pada kaki serta jari-jemari dan sela-selanya. Cara yang sama bisa digunakan untuk mengobati bengkak dan bisul, karena<br />
kapsaisin cabai ternyata juga bersifat antiradang.</p>
<p><a href="http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community" rel="nofollow">http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-13</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 15:02:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-13</guid>
		<description>&lt;strong&gt;ALPHABET IN HINDU&lt;/strong&gt;

A	Adalah Untuk Aum, Ke Tiga Suku Kata Mantra Yang Menghadirkan Misteri Yang Kudus  Dalam Bunyi yang Serasi Dan Getaran.
B	Adalah Untuk Bhakti, Bhakti yang mendalam Dan Cinta kasih Untuk Ketuhanan, Yang Melembutkan Bahkan buat Hati yang membatu.
C	Adalah Untuk culture-Kultur, Keindahan Musik, Seni tngkat tinggi, Drama,Tarian, Literatur Dan Arsitektur.
D	Adalah Untuk Dharma, Adalah Kebajikan abadi, tuntunan Kosmis Dan kerja-tugas, Menuntun kita Pada Sisi yang benar
E	Adalah Untuk Earth-Bumi, Planet Biru Menyenangkan Kita, Yang Kita Perlakukan Sebagai tempat Suci, Yang Melindungi Semua Makhluk-Nya.
F	Adalah Untuk Family-Keluarga, Batu sangat berharga bagi kehidupan beragama Hindu, Kebudayaan, pelayanann Dan Tradisi.
G	Adalah Untuk Guru, Guru Yang menerangi Kita Siapapun kita, Yang merupakan Pengetahuan Kebenaran tentang Tuhan, Dapat Memandu Kita Ke Sana-Tuhan.
H	Adalah Untuk Hatha Yoga, Ilmu Pengetahuan tetang cara hidup Sehat Untuk Vitalitas, Menjaga Keseimbangan enargi dalam tubuh Dan Meditasi.
I	Adalah Untuk India, Mengasuh Daratan bagi satu sampai enam Ras Manusia, Daratan Kudus Untuk bagi  pemeluk Hindu Di Dunia.
J	Adalah Untuk Japa, Berulang, Doa Mantras Yang  menangkan Emosi Dan Mengendalikan  Pikiran kita.
K	Adalah Untuk Karma, Hukum Sebab Akibat Kemana Kita Menentukan Tujuan Dan Jalan Hidup Kita.
L	Adalah Untuk Lotus-Bunga Teratai, Tempat Suci yang terdapat pada Jantung Bagian Dalam bunga ini, Di  Mana Tuhan pernah Tinggal, Begitu Tenang, Begitu Sempurna.
M	Adalah Untuk Mauna, Yang Diam-Tidak Berbicara, Kesunyian Yang Dalam Yang Tidak dapat diungkapkan dengan Kata-Kata, Pemikiran Dan Tindakan Ditenangkan.
N	Adalah Untuk Non Violence-Tanpa Kekerasan, Seni Hidup Yang Sederhana, Tanpa Terlalu Banyak Kebutuhan Atau Keinginan.
O	Adalah Untuk Open Mindedness-Pikiran yang Terbuka, Toleransi Hindu Dalam Kebebasan Bersikap Tentang Pemikiran, Pertanyaan Dan Kepercayaan.
P	Adalah Untuk Puja, Pemujaan Kepada  Tuhan Baik Di Dalam Diri Kita, Tempat Suci di Rumah kita Dan Kuil Suci Dan Tempat Lain.
Q	Adalah Untuk Quest-Pencarian, Pencarian Untuk Mengetahui, &quot; Siapa Aku? Dari Mana  Aku Datang ? Kemana Aku akan Pergi?&quot;
R	Adalah Untuk Reinkarnasi, Perjalanan Jiwa Abadi Kita Dari Kelahiran Ke Kelahiran selanjutnya-lahirkembali. Kita Tidak Takut Kematian.
S	Adalah Untuk Samskaras, Sakramen Menyucikan Jiw Perjalanan Hidup yang melalui: Kelahiran, Perkawinan, Kematian Dan Lainya.
T	Adalah Untuk Tilaka, Tanda Dahi yang digunakan Untuk Menghormati Kami dan anda Yang Unik Dan untuk menadakan Garis Keturunan.
U	Adalah Untuk Utsava, Festival Kuil Dan Rumah, Dimana dipenuhi Dengan Bhakti, Kesenangan, Berpesta Dalam Keluarga dengan tujuan Berbagi.
V	Adalah Untuk Vedas, Kitab Paling Suci Dan Paling Tua Kita, Kata-kata Tuhan yang Direkam/ditulis dengan 100,000 Sajak/Ayat dalam Bahasa Sansekerta.
W	Adalah Untuk Wealth-Kekayaan ( Artha), Salah Satu Dari Empat Tujuan Hidup Manusia, Selain Dengan Mencintai-Kama, Dharma Dan Penerangan-Moksha.
X	Adalah Untuk Xerophily, Kemampuan Dari beberapa Tumbuhan Tertentu Dan Binatang Untuk Tumbuh Dengan Subur pada Dataran India Kering dan Panas.
Y	Adalah Untuk Yoga, Cara Untuk Menghubungkan Jiwa Dengan Tuhan, Yang Membawa kita Lepaskan Dari Perbudakan Duniawi.
Z	Adalah Untuk Zeal-Semangat, Semangat Kita dalam Melaksanakan Pelayananan Tuhan, Ayo Berziarah Dan Sambutlah Pemimpin kita yang Suci-Tuhan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ALPHABET IN HINDU</strong></p>
<p>A	Adalah Untuk Aum, Ke Tiga Suku Kata Mantra Yang Menghadirkan Misteri Yang Kudus  Dalam Bunyi yang Serasi Dan Getaran.<br />
B	Adalah Untuk Bhakti, Bhakti yang mendalam Dan Cinta kasih Untuk Ketuhanan, Yang Melembutkan Bahkan buat Hati yang membatu.<br />
C	Adalah Untuk culture-Kultur, Keindahan Musik, Seni tngkat tinggi, Drama,Tarian, Literatur Dan Arsitektur.<br />
D	Adalah Untuk Dharma, Adalah Kebajikan abadi, tuntunan Kosmis Dan kerja-tugas, Menuntun kita Pada Sisi yang benar<br />
E	Adalah Untuk Earth-Bumi, Planet Biru Menyenangkan Kita, Yang Kita Perlakukan Sebagai tempat Suci, Yang Melindungi Semua Makhluk-Nya.<br />
F	Adalah Untuk Family-Keluarga, Batu sangat berharga bagi kehidupan beragama Hindu, Kebudayaan, pelayanann Dan Tradisi.<br />
G	Adalah Untuk Guru, Guru Yang menerangi Kita Siapapun kita, Yang merupakan Pengetahuan Kebenaran tentang Tuhan, Dapat Memandu Kita Ke Sana-Tuhan.<br />
H	Adalah Untuk Hatha Yoga, Ilmu Pengetahuan tetang cara hidup Sehat Untuk Vitalitas, Menjaga Keseimbangan enargi dalam tubuh Dan Meditasi.<br />
I	Adalah Untuk India, Mengasuh Daratan bagi satu sampai enam Ras Manusia, Daratan Kudus Untuk bagi  pemeluk Hindu Di Dunia.<br />
J	Adalah Untuk Japa, Berulang, Doa Mantras Yang  menangkan Emosi Dan Mengendalikan  Pikiran kita.<br />
K	Adalah Untuk Karma, Hukum Sebab Akibat Kemana Kita Menentukan Tujuan Dan Jalan Hidup Kita.<br />
L	Adalah Untuk Lotus-Bunga Teratai, Tempat Suci yang terdapat pada Jantung Bagian Dalam bunga ini, Di  Mana Tuhan pernah Tinggal, Begitu Tenang, Begitu Sempurna.<br />
M	Adalah Untuk Mauna, Yang Diam-Tidak Berbicara, Kesunyian Yang Dalam Yang Tidak dapat diungkapkan dengan Kata-Kata, Pemikiran Dan Tindakan Ditenangkan.<br />
N	Adalah Untuk Non Violence-Tanpa Kekerasan, Seni Hidup Yang Sederhana, Tanpa Terlalu Banyak Kebutuhan Atau Keinginan.<br />
O	Adalah Untuk Open Mindedness-Pikiran yang Terbuka, Toleransi Hindu Dalam Kebebasan Bersikap Tentang Pemikiran, Pertanyaan Dan Kepercayaan.<br />
P	Adalah Untuk Puja, Pemujaan Kepada  Tuhan Baik Di Dalam Diri Kita, Tempat Suci di Rumah kita Dan Kuil Suci Dan Tempat Lain.<br />
Q	Adalah Untuk Quest-Pencarian, Pencarian Untuk Mengetahui, &#8221; Siapa Aku? Dari Mana  Aku Datang ? Kemana Aku akan Pergi?&#8221;<br />
R	Adalah Untuk Reinkarnasi, Perjalanan Jiwa Abadi Kita Dari Kelahiran Ke Kelahiran selanjutnya-lahirkembali. Kita Tidak Takut Kematian.<br />
S	Adalah Untuk Samskaras, Sakramen Menyucikan Jiw Perjalanan Hidup yang melalui: Kelahiran, Perkawinan, Kematian Dan Lainya.<br />
T	Adalah Untuk Tilaka, Tanda Dahi yang digunakan Untuk Menghormati Kami dan anda Yang Unik Dan untuk menadakan Garis Keturunan.<br />
U	Adalah Untuk Utsava, Festival Kuil Dan Rumah, Dimana dipenuhi Dengan Bhakti, Kesenangan, Berpesta Dalam Keluarga dengan tujuan Berbagi.<br />
V	Adalah Untuk Vedas, Kitab Paling Suci Dan Paling Tua Kita, Kata-kata Tuhan yang Direkam/ditulis dengan 100,000 Sajak/Ayat dalam Bahasa Sansekerta.<br />
W	Adalah Untuk Wealth-Kekayaan ( Artha), Salah Satu Dari Empat Tujuan Hidup Manusia, Selain Dengan Mencintai-Kama, Dharma Dan Penerangan-Moksha.<br />
X	Adalah Untuk Xerophily, Kemampuan Dari beberapa Tumbuhan Tertentu Dan Binatang Untuk Tumbuh Dengan Subur pada Dataran India Kering dan Panas.<br />
Y	Adalah Untuk Yoga, Cara Untuk Menghubungkan Jiwa Dengan Tuhan, Yang Membawa kita Lepaskan Dari Perbudakan Duniawi.<br />
Z	Adalah Untuk Zeal-Semangat, Semangat Kita dalam Melaksanakan Pelayananan Tuhan, Ayo Berziarah Dan Sambutlah Pemimpin kita yang Suci-Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-12</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 15:01:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-12</guid>
		<description>&lt;strong&gt;ANTRE MEMASUKI MULUT BUAYA MENGANGA &lt;/strong&gt;

Dalam beberapa hal, dalam banyak keadaan, sebagai seorang penganut ajaran AGAMA adalah perlu melihat dunia ini dari sisi lain. Biasanya kita diantarkan melihat dunia ini dari ribuan Segi Pandang yang indah-indah. Jika kita umpamakan dari angka seratus maka sembilan puluh sembiln Segi Pandang dunia adalah Segi Pandang baik, indah, mengagumkan, menyenangkan, pemberi berbagai kenikmatan dan kepuasan. Dan satu Segi Pandang lain adalah yang biasanya dilupakan orang atau lebih tepat lagi adalah orang menghindari melihat dunia ini lewat Segi Pandang yang satu ini sebab Segi Pandang yang satu ini tidak begitu menguntungkan dia secara indria luar, tidak membujuk dia dan nyata-nyata memberikan banyak larangan. Adalah normal jika apapun yang kita inginkan, apapun yang kita senangi, apapun yang menjadi idaman kita jika tiba-tiba orang datang kepada kita lalu memberikan kata JANGAN maka kita akan menjadi tidak suka dengan jalan itu, tidak suka dengan kata JANGAN itu dan bahkan kita akan 
membenci orang yang memberikan kata JANGAN itu kepada kita.

      Dunia memang sangat tepat disebutkan sebagai Mayapada sebab ia merupakan bagian khayalan dari dunia-dunia lainnya yang terkelompok kedalam Vaikuntha Dhama yaitu tempat utama dimana tidak lagi terdapat kecemasan-kecemasan disana. Dalam dunia khayaln ini dengan mudah kita bisa mengkhayal untuk bisa menjadi apa saja sesuai keinginan kita. Pada waktu kecil saya suka mengkhayal menjadi Pendekar Sakti dan saya menikmati khayalan tersebut dimana saya benar-benar menjadi seorang pendekar gagah perkasa dengan pedang menggelayut di punggung, ikat kepala hitam menambah kegagahan saya sebagai Pendekar Sakti, tidak kalah lagi celana sampai di bawah lutut yang memperlihatkan bentuk betis saya yang kokoh dihiasi bulu kaki yang lebat, di atasnya melingkar kain sarung dan di tangan saya yang gagah terpajang tongkat sakti. Untuk menikmati khayalan tersebut saya melupakan panggilan manis dan sayang dari ibu saya yang menawarkan makanan dan minuman. Untuk menikmati khayalan tersebut 
dimana dengan tongkat sakti saya membabat musuh-musuh yang berjumlah puluhan bahkan ratusan saya menolak ajakan teman-teman untuk bermain kelereng atau permainan yang lainnya, atau bahkan saya menolak membuat PR yang harus disetor ke ibu guru keesokan harinya. Demikianlah kuatnya pengaruh khayalan memegang kepala/kesadaran kita sehingga kita melupakan alam kenyataan. 

      Khayalan-khayalan kepuasan indria telah menangkap seluruh kesadaran kita sehingga kita memilih untuk melanjutkan hidup dalam kemeriahan khayalan daripada mulai membenahi diri dengan cara membaca kitab-kitab suci, mendengarkan ajaran-ajaran suci, menyanyikan mantram-mantram suci atau bahkan daripada melakukan sembahyang sekian kali sehari yang hanya memakan waktu beberapa menit saja. Ribuan alasan akan kita kemukakan ketika kita sedang bersemangat dalam penikmatan kepuasan-kepuasan indria. Seorang sesepuh agama di Jakarta pernah berkata kepada saya bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyelesaikan sembahyang sekian waktunya. Jadi, sebuah kedudukan, jabatan atau profesi keagamaan tidak menjamin orangnya melaksanakan sembahyang atau ajaran agamanya. 

Tidak terhitung bahkan merupakan sesuatu yang normal tokoh-tokoh agama Hindu masih menyukai daging sapi, atau tokoh-tokoh agama lain melanggar apa-apa yang menjadi pantangan agamanya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tentu saja memprihatinkan. Demikian kuatnya pegangan duniawi mencengkeram diri kita sehngga lama kelamaan menyebabkan keseluruhan diri kita lahir batin menjadi DUSHITA atau terkotori, tercemari. Nah disinilah akhirnya diperlukan tehnik pengamatan keberadaan dunia ini dari satu Segi Pandang yang mengesampingkn 99 Segi Pandang lainnya yang menjanjikan segala bentuk kesenangan. 

    Segi Pandang yang satu ini mengajak kita untuk melihat dunia ini sebagai seekor Buaya Kelaparan dengan mulut menganga lebar mengerikan siap menelan mangsanya. Siapakah mangsanya?! Semakin seseorang menjauhkan diri dari kesucian lahir batin, semakin seseorang mengabsenkan diri dari praktek-praktek spiritual Veda dibawah bimbingn Guru-Guru suci maka antrean semakin terdepan baginya untuk masuk ke dalam mulut buaya yang sedang menganga lebar tersebut. Bahkan mereka yang tekun dan giat mengisi kepalanya dengan pengetahuan dan filsafat pun tidak akan terhindar dari bahaya diterkam oleh mulut buaya yang menganga tersebut jika ia tidak mempraktekkan apa-apa yang ia pelajari atau ajarkan, alias jika ia hanya menjadi orang yang ahli dalam berteori, maka ia belum memenuhi syarat untuk terlepas dari antrean paksa untuk memasuki mulut buaya yang sedang menganga lebar. 

Acharya Shri Kamal Kishore Goswami mengatakan bahwa Veda mengajarkan orang untuk melihat dunia ini sebagai Seekor Buaya Ganas. Dalam Catur Veda, kata Rushantam Grabham menunjukkan Buaya yang ganas. Tetapi, keganasannya disembunyikan didalam tetetan air mata buayanya. Diluar ia menunjukkan lemah lembut penuh kasih dengan cara mengeluarkan air mata, namun pada saat yang sama ia mencengkeram mangsanya dengan mulutnya, &quot;Ohhh…kasihan…kamu…, tetapi kamu kan sudah mati…, apa daya… aku sedang kelaparan… Maafkan daku….&quot; Katanya sambil mencabik-cabik tubuh mangsanya. 

Sekali lagi, itulah dunia tempat kita membanggakan diri, ia tidak lain hanyalah seekor Rushantam Grabham, seekor Buaya Ganas… (Darmayasa)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ANTRE MEMASUKI MULUT BUAYA MENGANGA </strong></p>
<p>Dalam beberapa hal, dalam banyak keadaan, sebagai seorang penganut ajaran AGAMA adalah perlu melihat dunia ini dari sisi lain. Biasanya kita diantarkan melihat dunia ini dari ribuan Segi Pandang yang indah-indah. Jika kita umpamakan dari angka seratus maka sembilan puluh sembiln Segi Pandang dunia adalah Segi Pandang baik, indah, mengagumkan, menyenangkan, pemberi berbagai kenikmatan dan kepuasan. Dan satu Segi Pandang lain adalah yang biasanya dilupakan orang atau lebih tepat lagi adalah orang menghindari melihat dunia ini lewat Segi Pandang yang satu ini sebab Segi Pandang yang satu ini tidak begitu menguntungkan dia secara indria luar, tidak membujuk dia dan nyata-nyata memberikan banyak larangan. Adalah normal jika apapun yang kita inginkan, apapun yang kita senangi, apapun yang menjadi idaman kita jika tiba-tiba orang datang kepada kita lalu memberikan kata JANGAN maka kita akan menjadi tidak suka dengan jalan itu, tidak suka dengan kata JANGAN itu dan bahkan kita akan<br />
membenci orang yang memberikan kata JANGAN itu kepada kita.</p>
<p>      Dunia memang sangat tepat disebutkan sebagai Mayapada sebab ia merupakan bagian khayalan dari dunia-dunia lainnya yang terkelompok kedalam Vaikuntha Dhama yaitu tempat utama dimana tidak lagi terdapat kecemasan-kecemasan disana. Dalam dunia khayaln ini dengan mudah kita bisa mengkhayal untuk bisa menjadi apa saja sesuai keinginan kita. Pada waktu kecil saya suka mengkhayal menjadi Pendekar Sakti dan saya menikmati khayalan tersebut dimana saya benar-benar menjadi seorang pendekar gagah perkasa dengan pedang menggelayut di punggung, ikat kepala hitam menambah kegagahan saya sebagai Pendekar Sakti, tidak kalah lagi celana sampai di bawah lutut yang memperlihatkan bentuk betis saya yang kokoh dihiasi bulu kaki yang lebat, di atasnya melingkar kain sarung dan di tangan saya yang gagah terpajang tongkat sakti. Untuk menikmati khayalan tersebut saya melupakan panggilan manis dan sayang dari ibu saya yang menawarkan makanan dan minuman. Untuk menikmati khayalan tersebut<br />
dimana dengan tongkat sakti saya membabat musuh-musuh yang berjumlah puluhan bahkan ratusan saya menolak ajakan teman-teman untuk bermain kelereng atau permainan yang lainnya, atau bahkan saya menolak membuat PR yang harus disetor ke ibu guru keesokan harinya. Demikianlah kuatnya pengaruh khayalan memegang kepala/kesadaran kita sehingga kita melupakan alam kenyataan. </p>
<p>      Khayalan-khayalan kepuasan indria telah menangkap seluruh kesadaran kita sehingga kita memilih untuk melanjutkan hidup dalam kemeriahan khayalan daripada mulai membenahi diri dengan cara membaca kitab-kitab suci, mendengarkan ajaran-ajaran suci, menyanyikan mantram-mantram suci atau bahkan daripada melakukan sembahyang sekian kali sehari yang hanya memakan waktu beberapa menit saja. Ribuan alasan akan kita kemukakan ketika kita sedang bersemangat dalam penikmatan kepuasan-kepuasan indria. Seorang sesepuh agama di Jakarta pernah berkata kepada saya bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyelesaikan sembahyang sekian waktunya. Jadi, sebuah kedudukan, jabatan atau profesi keagamaan tidak menjamin orangnya melaksanakan sembahyang atau ajaran agamanya. </p>
<p>Tidak terhitung bahkan merupakan sesuatu yang normal tokoh-tokoh agama Hindu masih menyukai daging sapi, atau tokoh-tokoh agama lain melanggar apa-apa yang menjadi pantangan agamanya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tentu saja memprihatinkan. Demikian kuatnya pegangan duniawi mencengkeram diri kita sehngga lama kelamaan menyebabkan keseluruhan diri kita lahir batin menjadi DUSHITA atau terkotori, tercemari. Nah disinilah akhirnya diperlukan tehnik pengamatan keberadaan dunia ini dari satu Segi Pandang yang mengesampingkn 99 Segi Pandang lainnya yang menjanjikan segala bentuk kesenangan. </p>
<p>    Segi Pandang yang satu ini mengajak kita untuk melihat dunia ini sebagai seekor Buaya Kelaparan dengan mulut menganga lebar mengerikan siap menelan mangsanya. Siapakah mangsanya?! Semakin seseorang menjauhkan diri dari kesucian lahir batin, semakin seseorang mengabsenkan diri dari praktek-praktek spiritual Veda dibawah bimbingn Guru-Guru suci maka antrean semakin terdepan baginya untuk masuk ke dalam mulut buaya yang sedang menganga lebar tersebut. Bahkan mereka yang tekun dan giat mengisi kepalanya dengan pengetahuan dan filsafat pun tidak akan terhindar dari bahaya diterkam oleh mulut buaya yang menganga tersebut jika ia tidak mempraktekkan apa-apa yang ia pelajari atau ajarkan, alias jika ia hanya menjadi orang yang ahli dalam berteori, maka ia belum memenuhi syarat untuk terlepas dari antrean paksa untuk memasuki mulut buaya yang sedang menganga lebar. </p>
<p>Acharya Shri Kamal Kishore Goswami mengatakan bahwa Veda mengajarkan orang untuk melihat dunia ini sebagai Seekor Buaya Ganas. Dalam Catur Veda, kata Rushantam Grabham menunjukkan Buaya yang ganas. Tetapi, keganasannya disembunyikan didalam tetetan air mata buayanya. Diluar ia menunjukkan lemah lembut penuh kasih dengan cara mengeluarkan air mata, namun pada saat yang sama ia mencengkeram mangsanya dengan mulutnya, &#8220;Ohhh…kasihan…kamu…, tetapi kamu kan sudah mati…, apa daya… aku sedang kelaparan… Maafkan daku….&#8221; Katanya sambil mencabik-cabik tubuh mangsanya. </p>
<p>Sekali lagi, itulah dunia tempat kita membanggakan diri, ia tidak lain hanyalah seekor Rushantam Grabham, seekor Buaya Ganas… (Darmayasa)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-11</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 14:59:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-11</guid>
		<description>&lt;strong&gt;BHAGAVAD-GITA KITAB SUCI PENGANJUR PERANG DAN KEKERASAN? &lt;/strong&gt;

Ada sekelompok orang yang mengatakan Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang di medan perang Kuruksetra. Padahal, menurut mereka, Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya untuk membunuh kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai. Benarkah anggapan itu? Benarkah Bhagavad-Gita semata-mata mengajarkan perang dan kekerasan?
“Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk baca Bhagavad-gita. Bukankah justru gara-gara ayat-ayat  suci itu manusia saling berperang?” cetus seorang teman dalam sebuah diskusi di ashram. Kebetulan dia baru pertama kali itu hadir dalam acara pendalaman Bhagavad-gita yang kami lakukan rutin setiap hari minggu siang.

Setelah bhajan dan arati, kami memilih sebuah sloka, membacanya bersama-sama, lalu membaca ulasannya. Biasanya kami memilih satu sloka khusus yang relevan dengan tema yang sedang hangat akhir-akhir ini di masyarakat. Kemudian ada sesi diskusi. Saat itulah, teman Hindu tadi menyela dan memberikan pendapatnya yang agak mengejutkan itu. Selama ini kami mengenalnya sebagai mahasiswa yang juga terlibat aktif  di sebuah LSM yang mengupayakan dialog dan perdamaian antar agama. 

Kawan itu lalu minta ijin untuk menjelaskan latar belakang pernyataannya itu.  Semua orang tahu, katanya memulai cerita, bahwa pertikaian di Timur Tengah telah berlangsung puluhan tahun. Pertikaian antara Israel dan Palestina, misalnya,  terus saja berlanjut. Berbagai upaya perdamaian sudah dilakukan, tapi tetap saja konflik itu tak kunjung berakhir. Bulan-bulan terakhir ini, konflik itu justru makin meluas dan menyeret negara-negara lainnya. 


“Saya pribadi berpendapat bahwa konflik itu tidak akan pernah selesai. Soalnya, kalau mau jujur, konflik itu diilhami dan dilandasi oleh perintah-perintah kitab suci masing-masing kelompok itu” sambungnya, lalu terdiam sejenak sambil memandangi kearah kami.Suasana jadi hening. Kami yang berjumlah sekitar dua puluh orang dalam aula itu, mulai mengerti kearah mana pembicaraannya. 




Dia lalu melanjutkan, bahwa sampai kapanpun, konflik di Timur Tengah itu tidak akan pernah mereda. Karena, kedua belah pihak meyakini kebenaran apa yang terpaparkan dalam masing-masing kitab suci agama mereka. Di sana ada pemaparan tentang sejarah pertikaian antar nenek moyang mereka, disertai klaim bahwa pihak merekalah yang dilindungi dan dikehendaki oleh Tuhan. Dendam itu terus akan berkobar di dada generasi penerus mereka masing-masing, terlebih setelah mereka membaca kitab sucinya. Bukankah antara agama-agama Abrahamis itu memang selalu bertikai? Bukankah kalau hanya dibaca tekstual, apa adanya, banyak ayat yang mengajarkan dan membenarkan kekerasan kepada umat lain? 
Kami merasakan adanya kebenaran dalam penuturannya.  “Tadinya saya masih menaruh harapan. Hindu khan terkenal agama yang cinta damai, penuh toleransi. Saya pikir itu pasti karena pengaruh ajaran kitab sucinya. Lalu saya coba pelajari kitab suci Hindu.  Maksudnya sekalian ingin memperoleh pencerahan dan pengetahuan rohani…” kisahnya panjang lebar.


Kebetulan waktu itu, lanjutnya, Bhagavad Gita lah yang paling mudah dia temukan. Susah menemukan kitab yang lainnya. Dia lalu mulai membuka halaman-halaman kitab suci itu dengan penuh semangat.
            “Tapi saya bingung dan kecewa berat.. Baru baca bab satu dan bab dua saja saya sudah ngeri. Saya tidak jadi meneruskan membacanya ” katanya mengenang kekecewaannya.
            “Lho, ngeri? Baca kitab suci kok malah ngeri? Mengapa begitu?” seorang teman lain bertanya heran.


“Ah…, ternyata Bhagavad gita itu tidak pantas disebut kitab suci. Masak sih kitab suci kok isinya menganjurkan perang dan pembunuhan…Lagi pula disabdakannya khan di medan perang?” 


Dia berkesimpulan bahwa semua kitab suci sama saja. Mengajarkan kekerasan, padahal seharusnya menciptakan kerukunan dan perdamaian. Kawan itu  lalu mulai mengkritik Krishna penyabda Bhagavad Gita. Menurutnya, Krishna adalah seorang tokoh yang tidak punya moral, karena  memaksa Arjuna untuk membunuh kakek, sanak keluarga dan gurunya sendiri. Padahal Arjuna sudah menolak untuk berperang, dengan dalih yang sangat manusiawi dan menjunjung nilai-nilai ahimsa.Bukankah ahimsa adalah dharma tertinggi menurut Weda? Tapi Krishna terus membujuknya dengan sebuah tawaran iming-iming yang menggiurkan. Lalu dengan fasihnya, kawan tadi  mengutip terjemahan sloka 2.37 Bhagavad-gita, menyebut sloka itu sebagai tawaran yang kekanak-kanakan.


“Wahai Arjuna, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga, atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangun dan bertempurlah dengan ketabahan hati…”
“Bukankah tawaran masuk sorga itu yang mengilhami para pengebom Bali dan para pembela Tuhan lainnya melakukan teror dan berbagai tindak kejahatan ?” lanjutnya berapi-api. Dia lalu menyebut buku yang ditulis oleh para teroris yang membeberkan dalihnya melakukan berbagai pengeboman. Jelas-jelas, semuanya diilhami oleh iming-iming kenikmatan kehidupan surga bersama para bidadari yang katanya selalu perawan itu. Dan semua itu tertulis dalam kitab suci.


“Nah, kalau Krishna mendesak Arjuna untuk membunuh Bhisma, Drona, dan para Kaurawa yang masih sanak saudara sendiri hanya demi masuk surga, apa itu bukan amoral namanya?”
Jelaslah bagi kami, mengapa teman tadi akhirnya emoh membaca Bhagavad-gita. Argumennya memang cukup kuat, dan tuduhan bahwa Bhagavad-gita mengajarkan perang dan kekerasan itu sudah sering dilontarkan orang yang membaca Bhagavad-gita sekenanya saja.
                                                                        ***


Bhagavad-gita dikenal sebagai simbol kedamaian dan pencerahan batin. Mahatma Gandhi menyatakan “Bhagavad-gita adalah sumber kedamaian bagiku. Manakala keputusasaan datang menghampiri, aku membuka lembaran-lembaran Gita dan selalu kutemukan ayat yang memberikan pengharapan.” 


Meski demikian, Gandhi sendiri, penganjur ahimsa (anti kekerasan) yang termashyur itu juga mengakui bahwa beberapa sloka dalam Bhagavad-gita itu penuh misteri dan pemaknaannya tidak  mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.


Misalnya, dalam Sloka 18.17 Sri Krishna menyatakan bahwa kegiatan membunuh sekalipun dapat bersifat rohani, dan merupakan salah satu bentuk yoga  : “Orang yang tidak digerakkan oleh keakuan palsu dan kecerdasannya tidak terikat, tidak membunuh, meskipun ia membunuh orang di dunia ini. Ia juga tidak terikat oleh perbuatannya”. Dalam karyanya Anasakti Yoga, Gandhi mengomentari ayat di atas sebagai berikut : “ Makna ayat-ayat Bhagavad-gita ini tampaknya didasari pada  cita-cita ideal di dunia hayalan, yang sulit ditemukan contohnya di dunia nyata  ini”.
Karena alasan itulah, sebagian orang bahkan terang-terangan menuduh Krishna sebagai tokoh provokator yang tidak cinta damai. Anggapan demikian  itu sering disebarluaskan oleh orang non Hindu untuk memojokkan kitab-kitab Hindu. Menurut mereka, Gita tidak pantas dijadikan pedoman moralitas, karena jelas-jelas bertentangan dengan semangat cinta damai dan anti kekerasan. 


 Benarkah anggapan itu? Benarkah  selama ini Bhagavad-gita telah menjadi sumber inspirasi bagi tindak kekerasan ataupun pembunuhan yang mungkin dilakukan oleh umat Hindu yang ekstrim? Haruskah kita menghentikan kegiatan membaca Bhagavad-gita, seperti yang dilakukan oleh aktivis perdamaian tersebut?             Kalau sabda Krishna hanya berdasarkan pada sebuah keadaan ideal yang tidak praktis bagi kehidupan nyata kita saat ini, masih perlukah kita mendasarkan hidup kita pada ayat-ayat Bhagavad-gita?    

                                                                   
            Orang yang menetapkan standar moralitas menurut ukuran mereka sendiri, pasti akan meragukan kesimpulan Krishna dalam Bhagavad-gita tersebut. Karena itu, marilah secara obyektif memahami mana yang tergolong  kekerasan dan mana yang bukan kekerasan. Barulah kita bisa menyimpulkan, apakah Krishna memang benar-benar provokator bagi tindak-tindak kekerasan  seperti yang dituduhkan orang selama ini.


            Banyak orang yang lupa, bahwa percakapan rohani antara Krishna dan Arjuna yang disebut sebagai Bhagavad-gita itu sebenarnya  adalah  bagian dari kitab yang lebih besar, yaitu Mahabharata. Walau sering dibaca sebagai buku yang terpisah, sesungguhnya Bhagavad Gita yang terdiri dari 18 bab itu adalah text bab 25 s/d bab 42 dari  Bhisma Parva. Bhisma Parva adalah salah satu dari 18 parwa Mahabharaa.  Untuk dapat memahami secara benar amanat Bhagavad-gita, kita harus memahami pula secara utuh  kitab Mahabharata. Dengan demikian kita bisa memahami  apa yang melatarbelakangi terjadinya perang di Kuruksetra, dan tujuan disabdakannya Bhagavad-gita


Kalau kita mengikuti kisah Mahabharata, sebelum perang di Kuruksetra terjadi, sebenarnya segala upaya damai telah diupayakan. Para Pandawa berhak meminta kembali kerajaan Indraprastha, yang memang hak milik sah mereka. Namun para Kaurawa menolak  permintaan mereka. Lalu, para Pandawa mengalah, hanya dengan meminta lima desa sebagai tempat tinggal. Sebagai ksatria, tugas mereka adalah pelindung dan administrator pemerintahan. Karena itu, mereka merelakan kerajaan sah mereka, dan hanya meminta wilayah seluas 5 desa agar tetap dapat menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ksatria. 


Duryodana yang serakah menolak mentah-mentah permintaan itu. Dengan congkak ia bahkan mengatakan “Wahai Pandawa, jangankan lima desa, tanah seluas ujung jarum pun tidak akan aku relakan untuk kalian.”
Segala upaya damai masih diupayakan. Bahkan, tanpa diminta oleh siapapun, atas kehendak dan inisiatifnya sendiri,  Krishna  bertindak sebagai duta perdamaian. Krishna telah menunjukkan ‘niat baik’ sebagai pihak yang cinta damai. Krishna pergi ke Hastinapura dan membujuk para Kaurawa agar mau berdamai dengan para Pandawa. Tapi apa yang terjadi? Dengan congkaknya, Duryodana justru memerintahkan prajuritnya untuk menagkap Krishna. Saat dikepung oleh balatentara Kaurawa itu, Krishna telah menunjukkan identitas-Nya yang sejati, dengan menampakkan wujud wiswarupa –Nya. Toh, Duryodana tetap menghendaki perang terjadi, karena ia merasa yakin dengan jumlah tentaranya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, siapa yang gemar perang?


Kalau benar Krishna memang gemar berperang, penganjur pembunuhan, dan merestui tindak kekerasan, mengapa Krishna mengagungkan ahimsa sebagai “sifat mulia, sifat agung yang tumbuh dari pengetahuan yang benar” setidaknya tiga kali dalam Bhagavad-gita (Bhagavad-gita 10.5, 13.8, dan 16.2)? Krishna mendukung sepenuhnya perintah Weda : ahimsyat sarva-bhutanam : ‘Jangan melakukan kekerasan kepada makhluk hidup manapun.” 


            Perlu kita catat pula, bahwa walaupun sabda dan argumen Krishna dimaksudkan untuk semua orang, namun perintah Krishna untuk bertempur khususnya ditujukan kepada Arjuna. Adalah bodoh kalau kemudian ada orang yang  membenarkan tindakan kirminalnya hanya dengan mengutip misalnya ayat “sang roh tidak dapat dibunuh ataupun dapat membunuh” tanpa memahami konteks makna ayat seperti itu.
Sebuah tindakan tergolong kekerasan atau bukan kekerasan, ditentukan oleh prinsip tugas dan kewajiban.  Dalam sistem sosial Weda, Arjuna dan para Pandawa lainnya adalah para ksatriya.  Kata ‘ksatria’ sendiri dalam dalam bahasa Sanskerta berarti ‘orang yang melindungi dari bahaya’. Menjadi tugas para ksatriya untuk melindungi masyarakat dari serangan musuh. Sama halnya dengan tugas TNI melindungi rakyat Indonesia dari serangan apapun. 


Menurut Bhaktivedanta Swami, dalam kitab Weda disebutkan, ada enam musuh yang harus dilawan dan bahkan boleh diberikan hukuman mati, yaitu : 1) orang yang meracuni; 2) orang yang membakar rumah orang lain; 3) orang yang menyerang dengan senjata mematikan: 4) orang yang merampok kekayaan orang lain; 5) orang yang menyerobot tanah milik orang lain; dan 6) orang yang menculik istri orang lain.


Duryodana dan saudaranya telah melakukan enam jenis kesalahan tersebut. Duryodana telah meracuni Bhima, pernah berusaha membakar Pandawa dan Kunti, bibinya sendiri dengan menjebak mereka  di istana kardus. Kaurawa telah merampas kerajaan para Pandawa (Indraprastha), telah berusaha merebut Drupadi dan ingin menjadikan wanita itu sebagai budak. Walau upaya perdamaian telah dilakukan, Duryodana tetap ngotot ingin berperang, karena yakin bahwa bala tentaranya yang jauh lebih banyak jumlahnya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, menurut anjuran Weda, Duryodana sudah memenuhi syarat sebagai musuh yang harus dilawan dan boleh dihukum sampai mati. 


Sebelum peperangan, Krishna memberikan pilihan kepada Pandawa dan Kaurawa. Mereka dipersilahkan memilih salah satu : pasukan Krishna yang tak terkalahkan,  atau memilih diri Krishna yang tidak akan ikut bertempur. Demikianlah. Ketika kedua belah pihak itu akhirnya harus berhadapan di medan Kuruksetra, para Pandawa memilih Krishna sebagai penasehat mereka, sedangkan Duryodana tergoda untuk memilih bala tentara kerajaan Mathura. Krishna bertindak sebagai kusir kereta perang Arjuna.


Di sinilah mulainya Bab Pertama kitab Bhagavad-gita. Saat melihat kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara  berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah  terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur, dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Weda sebagai pembenaran. Baginya, lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta, daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang-orang yang patut dihormatinya. 


Arjuna juga beralasan bahwa apabila para suami terbunuh, maka hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita keluarga akan ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah  keturunan yang tidak diinginkan (Gita 1.40). Peperangan adalah selalu salah bagi orang yang mampu berpikir secara jernih. Lebih baik menempuh jalan non kekerasan. 


Mendengar semua argumentasi Arjuna itu, sambil tersenyum Krishna berkata : “Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal (Gita 2.11).


Menurut pengertiannya, kekerasan bukan hanya menyangkut kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan terhadap mental. Termasuk pula pelanggaran terhadap pelaksanaan hak asasi manusia. Kekerasan yang dilakukan oleh Duryodana tidak hanya menyangkut kekerasan fisik semata. Ia telah menghalangi hak warga kerajaannya untuk hidup berdasarkan prinsip ketuhanan. Dalam sebuah pemerintahan kerajaan, biasanya warga kerajaan menganggap seorang raja sebagai wakil Tuhan di dunia. Seorang raja wajib memberikan kesempatan penuh warganya untuk dapat mengembangkan kehidupan spiritual dan kesadaran kepada Tuhan.
Selama ini, para Kaurawa telah banyak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma. 

Karena itu, sebagai ksatriyaa, tugas Arjuna sudah jelas. Jauh dari sekedar  gemar berperang, Krishna memerintahkan Arjuna untuk menjalankan tugasnya. Tapi Arjuna adalah ksatria yang lembut hati, berhati mulia dan tidak ingin melakukan pembunuhan itu. Krishna lalu mengingatkan Arjuna tentang hakekat diri manusia, tentang hakekat sang roh. Bahwa roh tidak akan pernah terbunuh dalam keadaan manapun. Kalau orang mau membaca sampai habis Bhagavad-gita dan tidak hanya berhenti sampai bab 2, orang akan memahami segala misteri kehidupan ini. Bhagavad-gita bukan hanya berbicara tentang kekerasan


Mungkin orang masih akan memprotes. Tindakan Arjuna adalah sebuah pembalasan dendam, dan penghukuman terhadap Duryodana tetap saja merupakan tindak kekerasan dan patut dicela. 


Tapi, apakah pemaksaan atau pembunuhan selalu berarti kekerasan yang tercela? Dan apakah perilaku yang tampaknya bersahabat selalu berarti non kekerasan? Saat mengamputasi anggota badan pasien, seorang dokter bedah mungkin dianggap bertindak sadis, dan orang awam bisa saja mengambil kesimpulan ‘betapa sadis dan biadabnya tindakkan dokter itu’. Tetapi tindakan dokter bedah itu tidak melanggar hukum. Mengapa? Karena ia menjalankan tugas yang telah ditetapkan baginya. Tindakan amputasi ataupun operasi yang dilakukannya – yang tampaknya penuh kekerasan – justru bertujuan baik, menyembuhkan sang pasien. 


Sementara itu, seorang teman mungkin berusaha menghentikan kebiasaannya mabuk atau merokok. Kalau kemudian, atas nama sikap persahabatan, saya menawarinya minuman keras ataupun rokok, tindakan saya yang tampak bersahabat itu sebenarnya adalah tindakan kekerasan. Selain menyebabkan gangguan kesehatan akibat minuman keras dan rokok yang saya berikan, barangkali saya juga bisa disebut melanggar kebebasan teman itu untuk menjalani pilihan hidupnya. 


Atau, anggap ada seorang polisi yang menolak melakukan kekerasan saat tugas mewajibkannya melindungi seseorang dari serangan perampok. Maka, tindakan polisi berniat melakukan non kekerasan itu, dengan sendirinya adalah pelanggaran terhadap hak warga negara untuk memperoleh perlindungan.


Seorang anak yang baru sadar setelah menjalani operasi berat, mungkin akan menangis meraung meminta makanan karena rasa haus dan lapar. Tapi dokter tidak menuruti kemauan anak itu dengan tidak memberinya makanan.  Memberikan makanan kepada anak dalam kondisi seperti itu justru merupakan tindakan kekerasan. 


Contoh-contoh tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita, betapa tidak mudah menentukan mana yang kekerasan  dan mana yang bukan kekerasan menurut standar moralitas buatan manusia. Karena itu, kita membutuhkan sebuah standar moral absolut yang melampui standar relatif benar-salah dan baik-buruk di dunia ini. 


Sekali lagi, pertempuran di medan perang Kuruksetra merupakan pilihan terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Bagi Arjuna, penolakannya bertempur dilandasi oleh kemulian hati dan sifat welas asihnya yang besar. Tapi, kalau Arjuna meninggalkan medan perang itu, apakah para Kaurawa akan menganggap Arjuna sebagai ksatria berhati mulia? Tidak! Mereka akan menganggap Arjuna sebagai pengecut. 


Marilah kita simak sloka 2.30 s/d 2.38 untuk agar dapat memahami secara utuh alasan Krishna meminta Arjuna tetap bertempur :


“Wahai putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. arena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya,  hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu.


“Wahai Arjuna, berbahagialah para ksatriya yang mendapat kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya – kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka”


“Akan tetapi, kalau engkau tidak melaksanakan kewajiban dharma-mu, yaitu bertempur, engkau pasti akan menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemashyuranmu sebagai ksatriya akan hilang”


“Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian”.


“Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau”


“Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?”


“Wahai Putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati”


“Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah – dengan demikian, engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”


            Jadi, Arjuna mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk membinasakan para Kaurawa. Tugasnya hanyalah bertempur, hanya sebagai alat, sekedar menjalankan kewajiban, tanpa mengikatkan diri kepada hasil tindakannya. Inilah sesungguhnya ajaran yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Perang yang dijalani Arjuna adalah perang membela dharma, dilandasi oleh dharma. 
Kembali dalam kehidupan nyata kita. 

Dalam prakteknya, kekerasan sering kita butuhkan untuk memelihara ketentraman hidup masyarakat banyak. Masih ingatkah dengan terbunuhnya gembong teroris Dr. Azahari di Batu, Malang beberapa bulan lalu? Orang dapat saja mengutuk tindakan penyergapan yang dilakukan oleh Detasemen 88 yang mengakibatkan tewasnya orang yang paling diburu itu sebagai tindak kekerasan yang tidak manusiawi. Bagaimanapun itu adalah tindak kekerasan. 


Anehnya, beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan yang menggegerkan itu, anggota Detasemen 88 justru mendapat penghargaan dan kenaikan pangkat dari pemerintah. Mengapa, karena pembunuhan yang mereka lakukan adalah demi menjalankan perintah negara. Mereka memang mendapatkan mandat dan perintah untuk itu. Tapi sebaliknya, sering kita dengar pula kabar pemecatan atau pemberian hukuman terhadap anggota TNI atau polisi, karena telah melakukan pembunuhan di luar prosedur. Mereka menggunakan senjata apinya untuk kepentingan pribadi.  Jadi, sama-sama kekerasan dan sama-sama pembunuhan, tapi yang satu mendapat tanda jasa dan kehormatan, yang lainnya berbuah pemecatan dan hukuman. Apa yang membedakannya? Sekali lagi, tugas dan kewajiban.


Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa Krishna bukan tokoh tak bermoral yang doyan perang dan gemar kekerasan. Bhagavad-gita bukanlah kitab yang bisa digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan kriminal yang dilakukan seseorang. Kita boleh bangga, karena selama ini, belum pernah kami mendengar ada orang Hindu yang melakukan agresi atau peperangan dengan umat agama lain dengan alasan menjalankan perintah Krishna dalam Bhagavad-gita. 


Lagi pula, kalau benar Bhagavad-gita adalah kitab penganjur perang dan kekerasan, mengapa seorang tokoh anti kekerasan seperti Mahatma Gandhi selalu membawa-bawa Bhagavad-gita kemanapun beliau pergi? 

Mengapa semakin banyak orang dari berbagai belahan dunia kini memeluk agama Hindu berawal dari membaca Bhagavad-gita? Tentu saja, yang harus kita lakukan adalah membaca Bhagavad-gita dengan didasari kerendahan hati, dibaca menyeluruh dengan bantuan bimbingan insan-insan yang telah memahami amanat rohani kitab suci itu. Kita butuh kehadiran seorang guru atau dosen bahkan untuk mengerti dan memahami ilmu pengetahuan material sekalipun. Apa lagi untuk memahami dan menghayati misteri pengetahuan rohani seperti yang terkandung dalam Bhagavad-gita.


Jadi, sayang sekali kalau kawan Hindu tersebut tidak pernah lagi membaca Bhagavad-gita hanya karena belum memahami secara benar amanat rohaninya. Mungkin dia belum pernah membaca komentar Dr. Edwin H. Powell, seorang professor sosiologi State University of New York yang menyatakan sebagai berikut : 

“Kalau memang kebenaranlah yang berhasil, seperti yang ditegaskan oleh Pierce dan para pengikut filsafat pragmatisme, maka pasti ada kebenaran dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya, sebab para pengikut ajarannya memperlihatkan ketenangan dan keriangan  yang jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini yang pada umumnya hambar dan  keras”. Banggalah menjadi Hindu!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BHAGAVAD-GITA KITAB SUCI PENGANJUR PERANG DAN KEKERASAN? </strong></p>
<p>Ada sekelompok orang yang mengatakan Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang di medan perang Kuruksetra. Padahal, menurut mereka, Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya untuk membunuh kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai. Benarkah anggapan itu? Benarkah Bhagavad-Gita semata-mata mengajarkan perang dan kekerasan?<br />
“Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk baca Bhagavad-gita. Bukankah justru gara-gara ayat-ayat  suci itu manusia saling berperang?” cetus seorang teman dalam sebuah diskusi di ashram. Kebetulan dia baru pertama kali itu hadir dalam acara pendalaman Bhagavad-gita yang kami lakukan rutin setiap hari minggu siang.</p>
<p>Setelah bhajan dan arati, kami memilih sebuah sloka, membacanya bersama-sama, lalu membaca ulasannya. Biasanya kami memilih satu sloka khusus yang relevan dengan tema yang sedang hangat akhir-akhir ini di masyarakat. Kemudian ada sesi diskusi. Saat itulah, teman Hindu tadi menyela dan memberikan pendapatnya yang agak mengejutkan itu. Selama ini kami mengenalnya sebagai mahasiswa yang juga terlibat aktif  di sebuah LSM yang mengupayakan dialog dan perdamaian antar agama. </p>
<p>Kawan itu lalu minta ijin untuk menjelaskan latar belakang pernyataannya itu.  Semua orang tahu, katanya memulai cerita, bahwa pertikaian di Timur Tengah telah berlangsung puluhan tahun. Pertikaian antara Israel dan Palestina, misalnya,  terus saja berlanjut. Berbagai upaya perdamaian sudah dilakukan, tapi tetap saja konflik itu tak kunjung berakhir. Bulan-bulan terakhir ini, konflik itu justru makin meluas dan menyeret negara-negara lainnya. </p>
<p>“Saya pribadi berpendapat bahwa konflik itu tidak akan pernah selesai. Soalnya, kalau mau jujur, konflik itu diilhami dan dilandasi oleh perintah-perintah kitab suci masing-masing kelompok itu” sambungnya, lalu terdiam sejenak sambil memandangi kearah kami.Suasana jadi hening. Kami yang berjumlah sekitar dua puluh orang dalam aula itu, mulai mengerti kearah mana pembicaraannya. </p>
<p>Dia lalu melanjutkan, bahwa sampai kapanpun, konflik di Timur Tengah itu tidak akan pernah mereda. Karena, kedua belah pihak meyakini kebenaran apa yang terpaparkan dalam masing-masing kitab suci agama mereka. Di sana ada pemaparan tentang sejarah pertikaian antar nenek moyang mereka, disertai klaim bahwa pihak merekalah yang dilindungi dan dikehendaki oleh Tuhan. Dendam itu terus akan berkobar di dada generasi penerus mereka masing-masing, terlebih setelah mereka membaca kitab sucinya. Bukankah antara agama-agama Abrahamis itu memang selalu bertikai? Bukankah kalau hanya dibaca tekstual, apa adanya, banyak ayat yang mengajarkan dan membenarkan kekerasan kepada umat lain?<br />
Kami merasakan adanya kebenaran dalam penuturannya.  “Tadinya saya masih menaruh harapan. Hindu khan terkenal agama yang cinta damai, penuh toleransi. Saya pikir itu pasti karena pengaruh ajaran kitab sucinya. Lalu saya coba pelajari kitab suci Hindu.  Maksudnya sekalian ingin memperoleh pencerahan dan pengetahuan rohani…” kisahnya panjang lebar.</p>
<p>Kebetulan waktu itu, lanjutnya, Bhagavad Gita lah yang paling mudah dia temukan. Susah menemukan kitab yang lainnya. Dia lalu mulai membuka halaman-halaman kitab suci itu dengan penuh semangat.<br />
            “Tapi saya bingung dan kecewa berat.. Baru baca bab satu dan bab dua saja saya sudah ngeri. Saya tidak jadi meneruskan membacanya ” katanya mengenang kekecewaannya.<br />
            “Lho, ngeri? Baca kitab suci kok malah ngeri? Mengapa begitu?” seorang teman lain bertanya heran.</p>
<p>“Ah…, ternyata Bhagavad gita itu tidak pantas disebut kitab suci. Masak sih kitab suci kok isinya menganjurkan perang dan pembunuhan…Lagi pula disabdakannya khan di medan perang?” </p>
<p>Dia berkesimpulan bahwa semua kitab suci sama saja. Mengajarkan kekerasan, padahal seharusnya menciptakan kerukunan dan perdamaian. Kawan itu  lalu mulai mengkritik Krishna penyabda Bhagavad Gita. Menurutnya, Krishna adalah seorang tokoh yang tidak punya moral, karena  memaksa Arjuna untuk membunuh kakek, sanak keluarga dan gurunya sendiri. Padahal Arjuna sudah menolak untuk berperang, dengan dalih yang sangat manusiawi dan menjunjung nilai-nilai ahimsa.Bukankah ahimsa adalah dharma tertinggi menurut Weda? Tapi Krishna terus membujuknya dengan sebuah tawaran iming-iming yang menggiurkan. Lalu dengan fasihnya, kawan tadi  mengutip terjemahan sloka 2.37 Bhagavad-gita, menyebut sloka itu sebagai tawaran yang kekanak-kanakan.</p>
<p>“Wahai Arjuna, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga, atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangun dan bertempurlah dengan ketabahan hati…”<br />
“Bukankah tawaran masuk sorga itu yang mengilhami para pengebom Bali dan para pembela Tuhan lainnya melakukan teror dan berbagai tindak kejahatan ?” lanjutnya berapi-api. Dia lalu menyebut buku yang ditulis oleh para teroris yang membeberkan dalihnya melakukan berbagai pengeboman. Jelas-jelas, semuanya diilhami oleh iming-iming kenikmatan kehidupan surga bersama para bidadari yang katanya selalu perawan itu. Dan semua itu tertulis dalam kitab suci.</p>
<p>“Nah, kalau Krishna mendesak Arjuna untuk membunuh Bhisma, Drona, dan para Kaurawa yang masih sanak saudara sendiri hanya demi masuk surga, apa itu bukan amoral namanya?”<br />
Jelaslah bagi kami, mengapa teman tadi akhirnya emoh membaca Bhagavad-gita. Argumennya memang cukup kuat, dan tuduhan bahwa Bhagavad-gita mengajarkan perang dan kekerasan itu sudah sering dilontarkan orang yang membaca Bhagavad-gita sekenanya saja.<br />
                                                                        ***</p>
<p>Bhagavad-gita dikenal sebagai simbol kedamaian dan pencerahan batin. Mahatma Gandhi menyatakan “Bhagavad-gita adalah sumber kedamaian bagiku. Manakala keputusasaan datang menghampiri, aku membuka lembaran-lembaran Gita dan selalu kutemukan ayat yang memberikan pengharapan.” </p>
<p>Meski demikian, Gandhi sendiri, penganjur ahimsa (anti kekerasan) yang termashyur itu juga mengakui bahwa beberapa sloka dalam Bhagavad-gita itu penuh misteri dan pemaknaannya tidak  mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Misalnya, dalam Sloka 18.17 Sri Krishna menyatakan bahwa kegiatan membunuh sekalipun dapat bersifat rohani, dan merupakan salah satu bentuk yoga  : “Orang yang tidak digerakkan oleh keakuan palsu dan kecerdasannya tidak terikat, tidak membunuh, meskipun ia membunuh orang di dunia ini. Ia juga tidak terikat oleh perbuatannya”. Dalam karyanya Anasakti Yoga, Gandhi mengomentari ayat di atas sebagai berikut : “ Makna ayat-ayat Bhagavad-gita ini tampaknya didasari pada  cita-cita ideal di dunia hayalan, yang sulit ditemukan contohnya di dunia nyata  ini”.<br />
Karena alasan itulah, sebagian orang bahkan terang-terangan menuduh Krishna sebagai tokoh provokator yang tidak cinta damai. Anggapan demikian  itu sering disebarluaskan oleh orang non Hindu untuk memojokkan kitab-kitab Hindu. Menurut mereka, Gita tidak pantas dijadikan pedoman moralitas, karena jelas-jelas bertentangan dengan semangat cinta damai dan anti kekerasan. </p>
<p> Benarkah anggapan itu? Benarkah  selama ini Bhagavad-gita telah menjadi sumber inspirasi bagi tindak kekerasan ataupun pembunuhan yang mungkin dilakukan oleh umat Hindu yang ekstrim? Haruskah kita menghentikan kegiatan membaca Bhagavad-gita, seperti yang dilakukan oleh aktivis perdamaian tersebut?             Kalau sabda Krishna hanya berdasarkan pada sebuah keadaan ideal yang tidak praktis bagi kehidupan nyata kita saat ini, masih perlukah kita mendasarkan hidup kita pada ayat-ayat Bhagavad-gita?    </p>
<p>            Orang yang menetapkan standar moralitas menurut ukuran mereka sendiri, pasti akan meragukan kesimpulan Krishna dalam Bhagavad-gita tersebut. Karena itu, marilah secara obyektif memahami mana yang tergolong  kekerasan dan mana yang bukan kekerasan. Barulah kita bisa menyimpulkan, apakah Krishna memang benar-benar provokator bagi tindak-tindak kekerasan  seperti yang dituduhkan orang selama ini.</p>
<p>            Banyak orang yang lupa, bahwa percakapan rohani antara Krishna dan Arjuna yang disebut sebagai Bhagavad-gita itu sebenarnya  adalah  bagian dari kitab yang lebih besar, yaitu Mahabharata. Walau sering dibaca sebagai buku yang terpisah, sesungguhnya Bhagavad Gita yang terdiri dari 18 bab itu adalah text bab 25 s/d bab 42 dari  Bhisma Parva. Bhisma Parva adalah salah satu dari 18 parwa Mahabharaa.  Untuk dapat memahami secara benar amanat Bhagavad-gita, kita harus memahami pula secara utuh  kitab Mahabharata. Dengan demikian kita bisa memahami  apa yang melatarbelakangi terjadinya perang di Kuruksetra, dan tujuan disabdakannya Bhagavad-gita</p>
<p>Kalau kita mengikuti kisah Mahabharata, sebelum perang di Kuruksetra terjadi, sebenarnya segala upaya damai telah diupayakan. Para Pandawa berhak meminta kembali kerajaan Indraprastha, yang memang hak milik sah mereka. Namun para Kaurawa menolak  permintaan mereka. Lalu, para Pandawa mengalah, hanya dengan meminta lima desa sebagai tempat tinggal. Sebagai ksatria, tugas mereka adalah pelindung dan administrator pemerintahan. Karena itu, mereka merelakan kerajaan sah mereka, dan hanya meminta wilayah seluas 5 desa agar tetap dapat menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ksatria. </p>
<p>Duryodana yang serakah menolak mentah-mentah permintaan itu. Dengan congkak ia bahkan mengatakan “Wahai Pandawa, jangankan lima desa, tanah seluas ujung jarum pun tidak akan aku relakan untuk kalian.”<br />
Segala upaya damai masih diupayakan. Bahkan, tanpa diminta oleh siapapun, atas kehendak dan inisiatifnya sendiri,  Krishna  bertindak sebagai duta perdamaian. Krishna telah menunjukkan ‘niat baik’ sebagai pihak yang cinta damai. Krishna pergi ke Hastinapura dan membujuk para Kaurawa agar mau berdamai dengan para Pandawa. Tapi apa yang terjadi? Dengan congkaknya, Duryodana justru memerintahkan prajuritnya untuk menagkap Krishna. Saat dikepung oleh balatentara Kaurawa itu, Krishna telah menunjukkan identitas-Nya yang sejati, dengan menampakkan wujud wiswarupa –Nya. Toh, Duryodana tetap menghendaki perang terjadi, karena ia merasa yakin dengan jumlah tentaranya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, siapa yang gemar perang?</p>
<p>Kalau benar Krishna memang gemar berperang, penganjur pembunuhan, dan merestui tindak kekerasan, mengapa Krishna mengagungkan ahimsa sebagai “sifat mulia, sifat agung yang tumbuh dari pengetahuan yang benar” setidaknya tiga kali dalam Bhagavad-gita (Bhagavad-gita 10.5, 13.8, dan 16.2)? Krishna mendukung sepenuhnya perintah Weda : ahimsyat sarva-bhutanam : ‘Jangan melakukan kekerasan kepada makhluk hidup manapun.” </p>
<p>            Perlu kita catat pula, bahwa walaupun sabda dan argumen Krishna dimaksudkan untuk semua orang, namun perintah Krishna untuk bertempur khususnya ditujukan kepada Arjuna. Adalah bodoh kalau kemudian ada orang yang  membenarkan tindakan kirminalnya hanya dengan mengutip misalnya ayat “sang roh tidak dapat dibunuh ataupun dapat membunuh” tanpa memahami konteks makna ayat seperti itu.<br />
Sebuah tindakan tergolong kekerasan atau bukan kekerasan, ditentukan oleh prinsip tugas dan kewajiban.  Dalam sistem sosial Weda, Arjuna dan para Pandawa lainnya adalah para ksatriya.  Kata ‘ksatria’ sendiri dalam dalam bahasa Sanskerta berarti ‘orang yang melindungi dari bahaya’. Menjadi tugas para ksatriya untuk melindungi masyarakat dari serangan musuh. Sama halnya dengan tugas TNI melindungi rakyat Indonesia dari serangan apapun. </p>
<p>Menurut Bhaktivedanta Swami, dalam kitab Weda disebutkan, ada enam musuh yang harus dilawan dan bahkan boleh diberikan hukuman mati, yaitu : 1) orang yang meracuni; 2) orang yang membakar rumah orang lain; 3) orang yang menyerang dengan senjata mematikan: 4) orang yang merampok kekayaan orang lain; 5) orang yang menyerobot tanah milik orang lain; dan 6) orang yang menculik istri orang lain.</p>
<p>Duryodana dan saudaranya telah melakukan enam jenis kesalahan tersebut. Duryodana telah meracuni Bhima, pernah berusaha membakar Pandawa dan Kunti, bibinya sendiri dengan menjebak mereka  di istana kardus. Kaurawa telah merampas kerajaan para Pandawa (Indraprastha), telah berusaha merebut Drupadi dan ingin menjadikan wanita itu sebagai budak. Walau upaya perdamaian telah dilakukan, Duryodana tetap ngotot ingin berperang, karena yakin bahwa bala tentaranya yang jauh lebih banyak jumlahnya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, menurut anjuran Weda, Duryodana sudah memenuhi syarat sebagai musuh yang harus dilawan dan boleh dihukum sampai mati. </p>
<p>Sebelum peperangan, Krishna memberikan pilihan kepada Pandawa dan Kaurawa. Mereka dipersilahkan memilih salah satu : pasukan Krishna yang tak terkalahkan,  atau memilih diri Krishna yang tidak akan ikut bertempur. Demikianlah. Ketika kedua belah pihak itu akhirnya harus berhadapan di medan Kuruksetra, para Pandawa memilih Krishna sebagai penasehat mereka, sedangkan Duryodana tergoda untuk memilih bala tentara kerajaan Mathura. Krishna bertindak sebagai kusir kereta perang Arjuna.</p>
<p>Di sinilah mulainya Bab Pertama kitab Bhagavad-gita. Saat melihat kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara  berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah  terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur, dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Weda sebagai pembenaran. Baginya, lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta, daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang-orang yang patut dihormatinya. </p>
<p>Arjuna juga beralasan bahwa apabila para suami terbunuh, maka hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita keluarga akan ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah  keturunan yang tidak diinginkan (Gita 1.40). Peperangan adalah selalu salah bagi orang yang mampu berpikir secara jernih. Lebih baik menempuh jalan non kekerasan. </p>
<p>Mendengar semua argumentasi Arjuna itu, sambil tersenyum Krishna berkata : “Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal (Gita 2.11).</p>
<p>Menurut pengertiannya, kekerasan bukan hanya menyangkut kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan terhadap mental. Termasuk pula pelanggaran terhadap pelaksanaan hak asasi manusia. Kekerasan yang dilakukan oleh Duryodana tidak hanya menyangkut kekerasan fisik semata. Ia telah menghalangi hak warga kerajaannya untuk hidup berdasarkan prinsip ketuhanan. Dalam sebuah pemerintahan kerajaan, biasanya warga kerajaan menganggap seorang raja sebagai wakil Tuhan di dunia. Seorang raja wajib memberikan kesempatan penuh warganya untuk dapat mengembangkan kehidupan spiritual dan kesadaran kepada Tuhan.<br />
Selama ini, para Kaurawa telah banyak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma. </p>
<p>Karena itu, sebagai ksatriyaa, tugas Arjuna sudah jelas. Jauh dari sekedar  gemar berperang, Krishna memerintahkan Arjuna untuk menjalankan tugasnya. Tapi Arjuna adalah ksatria yang lembut hati, berhati mulia dan tidak ingin melakukan pembunuhan itu. Krishna lalu mengingatkan Arjuna tentang hakekat diri manusia, tentang hakekat sang roh. Bahwa roh tidak akan pernah terbunuh dalam keadaan manapun. Kalau orang mau membaca sampai habis Bhagavad-gita dan tidak hanya berhenti sampai bab 2, orang akan memahami segala misteri kehidupan ini. Bhagavad-gita bukan hanya berbicara tentang kekerasan</p>
<p>Mungkin orang masih akan memprotes. Tindakan Arjuna adalah sebuah pembalasan dendam, dan penghukuman terhadap Duryodana tetap saja merupakan tindak kekerasan dan patut dicela. </p>
<p>Tapi, apakah pemaksaan atau pembunuhan selalu berarti kekerasan yang tercela? Dan apakah perilaku yang tampaknya bersahabat selalu berarti non kekerasan? Saat mengamputasi anggota badan pasien, seorang dokter bedah mungkin dianggap bertindak sadis, dan orang awam bisa saja mengambil kesimpulan ‘betapa sadis dan biadabnya tindakkan dokter itu’. Tetapi tindakan dokter bedah itu tidak melanggar hukum. Mengapa? Karena ia menjalankan tugas yang telah ditetapkan baginya. Tindakan amputasi ataupun operasi yang dilakukannya – yang tampaknya penuh kekerasan – justru bertujuan baik, menyembuhkan sang pasien. </p>
<p>Sementara itu, seorang teman mungkin berusaha menghentikan kebiasaannya mabuk atau merokok. Kalau kemudian, atas nama sikap persahabatan, saya menawarinya minuman keras ataupun rokok, tindakan saya yang tampak bersahabat itu sebenarnya adalah tindakan kekerasan. Selain menyebabkan gangguan kesehatan akibat minuman keras dan rokok yang saya berikan, barangkali saya juga bisa disebut melanggar kebebasan teman itu untuk menjalani pilihan hidupnya. </p>
<p>Atau, anggap ada seorang polisi yang menolak melakukan kekerasan saat tugas mewajibkannya melindungi seseorang dari serangan perampok. Maka, tindakan polisi berniat melakukan non kekerasan itu, dengan sendirinya adalah pelanggaran terhadap hak warga negara untuk memperoleh perlindungan.</p>
<p>Seorang anak yang baru sadar setelah menjalani operasi berat, mungkin akan menangis meraung meminta makanan karena rasa haus dan lapar. Tapi dokter tidak menuruti kemauan anak itu dengan tidak memberinya makanan.  Memberikan makanan kepada anak dalam kondisi seperti itu justru merupakan tindakan kekerasan. </p>
<p>Contoh-contoh tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita, betapa tidak mudah menentukan mana yang kekerasan  dan mana yang bukan kekerasan menurut standar moralitas buatan manusia. Karena itu, kita membutuhkan sebuah standar moral absolut yang melampui standar relatif benar-salah dan baik-buruk di dunia ini. </p>
<p>Sekali lagi, pertempuran di medan perang Kuruksetra merupakan pilihan terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Bagi Arjuna, penolakannya bertempur dilandasi oleh kemulian hati dan sifat welas asihnya yang besar. Tapi, kalau Arjuna meninggalkan medan perang itu, apakah para Kaurawa akan menganggap Arjuna sebagai ksatria berhati mulia? Tidak! Mereka akan menganggap Arjuna sebagai pengecut. </p>
<p>Marilah kita simak sloka 2.30 s/d 2.38 untuk agar dapat memahami secara utuh alasan Krishna meminta Arjuna tetap bertempur :</p>
<p>“Wahai putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. arena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya,  hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu.</p>
<p>“Wahai Arjuna, berbahagialah para ksatriya yang mendapat kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya – kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka”</p>
<p>“Akan tetapi, kalau engkau tidak melaksanakan kewajiban dharma-mu, yaitu bertempur, engkau pasti akan menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemashyuranmu sebagai ksatriya akan hilang”</p>
<p>“Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian”.</p>
<p>“Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau”</p>
<p>“Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?”</p>
<p>“Wahai Putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati”</p>
<p>“Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah – dengan demikian, engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”</p>
<p>            Jadi, Arjuna mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk membinasakan para Kaurawa. Tugasnya hanyalah bertempur, hanya sebagai alat, sekedar menjalankan kewajiban, tanpa mengikatkan diri kepada hasil tindakannya. Inilah sesungguhnya ajaran yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Perang yang dijalani Arjuna adalah perang membela dharma, dilandasi oleh dharma.<br />
Kembali dalam kehidupan nyata kita. </p>
<p>Dalam prakteknya, kekerasan sering kita butuhkan untuk memelihara ketentraman hidup masyarakat banyak. Masih ingatkah dengan terbunuhnya gembong teroris Dr. Azahari di Batu, Malang beberapa bulan lalu? Orang dapat saja mengutuk tindakan penyergapan yang dilakukan oleh Detasemen 88 yang mengakibatkan tewasnya orang yang paling diburu itu sebagai tindak kekerasan yang tidak manusiawi. Bagaimanapun itu adalah tindak kekerasan. </p>
<p>Anehnya, beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan yang menggegerkan itu, anggota Detasemen 88 justru mendapat penghargaan dan kenaikan pangkat dari pemerintah. Mengapa, karena pembunuhan yang mereka lakukan adalah demi menjalankan perintah negara. Mereka memang mendapatkan mandat dan perintah untuk itu. Tapi sebaliknya, sering kita dengar pula kabar pemecatan atau pemberian hukuman terhadap anggota TNI atau polisi, karena telah melakukan pembunuhan di luar prosedur. Mereka menggunakan senjata apinya untuk kepentingan pribadi.  Jadi, sama-sama kekerasan dan sama-sama pembunuhan, tapi yang satu mendapat tanda jasa dan kehormatan, yang lainnya berbuah pemecatan dan hukuman. Apa yang membedakannya? Sekali lagi, tugas dan kewajiban.</p>
<p>Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa Krishna bukan tokoh tak bermoral yang doyan perang dan gemar kekerasan. Bhagavad-gita bukanlah kitab yang bisa digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan kriminal yang dilakukan seseorang. Kita boleh bangga, karena selama ini, belum pernah kami mendengar ada orang Hindu yang melakukan agresi atau peperangan dengan umat agama lain dengan alasan menjalankan perintah Krishna dalam Bhagavad-gita. </p>
<p>Lagi pula, kalau benar Bhagavad-gita adalah kitab penganjur perang dan kekerasan, mengapa seorang tokoh anti kekerasan seperti Mahatma Gandhi selalu membawa-bawa Bhagavad-gita kemanapun beliau pergi? </p>
<p>Mengapa semakin banyak orang dari berbagai belahan dunia kini memeluk agama Hindu berawal dari membaca Bhagavad-gita? Tentu saja, yang harus kita lakukan adalah membaca Bhagavad-gita dengan didasari kerendahan hati, dibaca menyeluruh dengan bantuan bimbingan insan-insan yang telah memahami amanat rohani kitab suci itu. Kita butuh kehadiran seorang guru atau dosen bahkan untuk mengerti dan memahami ilmu pengetahuan material sekalipun. Apa lagi untuk memahami dan menghayati misteri pengetahuan rohani seperti yang terkandung dalam Bhagavad-gita.</p>
<p>Jadi, sayang sekali kalau kawan Hindu tersebut tidak pernah lagi membaca Bhagavad-gita hanya karena belum memahami secara benar amanat rohaninya. Mungkin dia belum pernah membaca komentar Dr. Edwin H. Powell, seorang professor sosiologi State University of New York yang menyatakan sebagai berikut : </p>
<p>“Kalau memang kebenaranlah yang berhasil, seperti yang ditegaskan oleh Pierce dan para pengikut filsafat pragmatisme, maka pasti ada kebenaran dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya, sebab para pengikut ajarannya memperlihatkan ketenangan dan keriangan  yang jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini yang pada umumnya hambar dan  keras”. Banggalah menjadi Hindu!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-10</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 14:46:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-10</guid>
		<description>Hindu dari berbagai sumber
&lt;strong&gt;KEAGUNGAN GANGGA&lt;/strong&gt;
Gangga selalu menjadi bagian paling penting dalam pemujaan sehari-hari para pendeta dan umat Hindu/penganut ajaran Veda yang menjalankan persembahyangan sehari-hari. Para pendeta Hindu di Indonesia dalam kegiatan pagi hari “Nyurya Sewana” memuji-muji serta memohonkan berkah Gangga melalui doa puja “Om gangga saraswati sidhhu…”. 

Masalah keutamaan dan keagungan Gangga di dalam peradaban suci Veda mendapat tempat penting khususnya dalam kitab-kitab Purana, yang terkenal adalah Kashi Khanda dan Kriya Yoga Sara Khanda. 
Umat Hindu batinnya akan seketika bergetar keras begitu mendengar kata Gangga atau sungai suci Gangga. Khususnya bagi umat Hindu di Indonesia, Gangga mengandung arti dan kemuliaan yang sangat tinggi. Mereka akan merasakan kebahagiaan batin luar biasa jika mendapatkan setetes air Gangga. Belasan tahun saya melihat wajah-wajah yang begitu cerah dan “mekar” begitu saya perlihatkan air suci Gangga. Bahkan kadang saking banyaknya umat yang memerlukan, saya terpaksa mencampurnya dengan air suci dari berbagai tempat suci di Indonesia. Banyak diantara mereka tidak mau menerimanya tanpa “menyambut” Gangga dengan canang. Indah sekali…. 
Suatu kali, di sebuah pertemuan keagamaan di New Delhi, seorang ibu-ibu dengan begitu bersemangat dan bangga mengatakan pujiannya terhadap pencuri. Ia mengatakan, “Dhanya hai aisaa chor…” (terpujilah seorang pencuri…) 
Ceritanya, ia mengunjungi Bali, bertemu dengan banyak kenalan. Pada setiap kenalan ia memberikan sedikit air Gangga. Lama kelamaan, sesampai di Jakarta, ia merasa tidak mampu memberikan teman-temannya yang banyak. Akhirnya ia memutuskan untuk menaruhnya (ngelinggihang) di pura Rawamangun. Tetapi, seorang teman Indonesianya melarang dan mengatakan, “Jangan…, jangan ditempatkan di pura…” 
Ibu itu bertanya, “Kenapa???” Teman Indonesianya yang ternyata adalah Pedanda Puniaatmaja (semasih walaka) mengatakan, “Nanti dicuri orang….” Ibu itu segera menjawab, “Wah baru kali ini saya mendengar seorang pencuri seperti itu. Saya mencakupkan tangan menghormat untuk pencuri itu. Terpujilah pencuri seperti itu…”

(Hadirin pun bertepuk tangan ramai mendengarkan cerita Ibu tersebut, Dr. Shashi).
Gangga dijaga kebersihannya oleh masyarakat tanpa komando. Mereka biasanya tidak berani mencuci pakaiannya dengan sabun di sungai Gangga, mandi di sungai Gangga tidak memakai sabun, tidak membuang kotoran ke Gangga, tidak dahak dan tidak berani kencing di sungai gangga. Semua larangan tersebut dilakukan tanpa ada yang memberitahukan dan tanpa pernah ada tulisan larangan membuang sampah/kotoran di sekitar sungai Gangga. Kitab-kitab suci menjelaskan keagungan dan kemuliaan Gangga secara panjang lebar. Para sarjana duniawi juga mengadakan berbagai penyelidikan ilmiah dengan test labnya bertahun-tahun untuk memuji kemuliaan Gangga. Mereka yang mengalami mandi di Gangga pun mengagung-agungkan kemuliaan Gangga, dengan berbagai pengalaman mulai dari kesembuhan dari penyakit sampai dengan ketenangan rumah tangganya. Gangga disebutkan sebagai tempat “linggih” atau stana seluruh dewa-dewi, sebagai penganugrah Catur Purusartha yaitu Dharma (sifat-sifat agung di dalam diri), Artha (kelengkapan kesenangan-kesenangan duniawi), Kama (pemuasan keinginan-keinginan) dan Moksa (pembebasan dari ikatan-ikatan duniawi), sebagai penghapus segala jenis dosa dan lain-lain. Sebagai penganugrah kesejahteraan umat manusia sesuai dengan tingkat sraddha dan penyerahan dirinya (bhavanurapato visno sada sarva-jagaddhita), pengantar keberhasilan di dunia ini dan juga di alam-alam setelah kematian (gangga hi sarva-bhutanam ihamutra phala-prada). Sekitar tahun 1980-an, saya sempat mengunjungi Triveni/Prayag, yaitu pertemuan tiga sungai suci Gangga, Yamuna dan Saraswati. Saya menginap di sebuah hotel di kota. Pagi-pagi pkl 4 dini hari, saya sudah antre bersama puluhan ibu-ibu tua untuk naik bus yang akan membawa kami ke Campuhan Triveni. Yang menarik, Ibu-Ibu tersebut bukanlah pendatang melainkan adalah penduduk setempat dan setiap pagi pkl. 4 mengawali hidupnya dengan mandi di Campuhan Triveni. Berbahagialah Ibu-Ibu itu, dan saya beruntung pernah antre dengan beliau-beliau yang beruntung itu. Ibu-Ibu tersebut tidak meninggalkan kebiasaan mandi paginya di Gangga bahkan pada musim dingin di bulan Desember dan Januari. Mereka tetap berbaris antre menunggu bus. Saya ingat, waktu itu beliau-beliau yang tua ternyata tidak menggigil. Sedangkan saya yang masih muda waktu itu “ngrietang gigi” kedinginan. 

Mereka meyakini bahwa dengan mandi di Gangga, dengan hanya menyentuh air suci Gangga segala dosanya akan terhapuskan. Dan itu disebutkan pula di kitab-kitab suci, bahwa dosa-dosa dapat dihapuskan atau dimusnahkan hanya dengan menyentuh air suci Gangga, sebagaimana Agni atau api menyentuh kapas dan seketika itu langsung memusnahkannya (tulasailah sphulinggena yatha nasyati tat-ksanat, tatha dosah pranasyanti ganggambhah sparsanad dhruvam). 
Kebahagiaan yang didapatkan orang setelah mandi di sungai Gangga disebutkan bahkan tidak dapat dicapai oleh orang walaupun ia melakukan ribuan yajna/korban suci (na sa kratur satair api). “Pumsam” atau orang-orang yang mandi di Gangga mendapatkan kepuasan atau kebahagiaan batin yang tidak terhingga (tustir bhavati). Dan kebahagiaan tersebut tentu saja tidak dapat dijelaskan dengan kata dan kalimat.

Di Bali, kita masih melihat umat Hindu beramai-ramai datang dan mandi ke laut atau sumber air suci pada hari-hari suci, Purnama Tilem, Banyu Pinaruh dan lain-lain. Di India juga kita dapat melihat hal yang sama. Manfaat mandi di Gangga pada hari-hari suci khususnya pada bulan-bulan Vaisakha, Kartika dan Magha. 
Jika orang mandi di Gangga pada bulan-bulan suci tersebut, manfaatnya disebutkan ribuan kali lipat (Vaisakhe kartike maghe gangga-snanam sudurlabham, darse satagunam punyam sangkrantau ca sahasrakam). Kata sudurlabham yang terdapat dalam kutipan ini menunjukkan suatu hal yang sangat amat langka didapatkan oleh makhluk hidup di dunia ini. 

Gangga juga disebutkan sebagai penghancur segala dosa (papa-nasini), sebagai sangat suci (pavitra) dan Gangga patut selalu disembah oleh mereka yang mempunyai keyakinan (manyeyam sarvada loke), oleh mereka yang hatinya telah dibersihkan oleh keraguan-keraguan akibat campur tangan pertimbangan logika berlebihan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hindu dari berbagai sumber<br />
<strong>KEAGUNGAN GANGGA</strong><br />
Gangga selalu menjadi bagian paling penting dalam pemujaan sehari-hari para pendeta dan umat Hindu/penganut ajaran Veda yang menjalankan persembahyangan sehari-hari. Para pendeta Hindu di Indonesia dalam kegiatan pagi hari “Nyurya Sewana” memuji-muji serta memohonkan berkah Gangga melalui doa puja “Om gangga saraswati sidhhu…”. </p>
<p>Masalah keutamaan dan keagungan Gangga di dalam peradaban suci Veda mendapat tempat penting khususnya dalam kitab-kitab Purana, yang terkenal adalah Kashi Khanda dan Kriya Yoga Sara Khanda.<br />
Umat Hindu batinnya akan seketika bergetar keras begitu mendengar kata Gangga atau sungai suci Gangga. Khususnya bagi umat Hindu di Indonesia, Gangga mengandung arti dan kemuliaan yang sangat tinggi. Mereka akan merasakan kebahagiaan batin luar biasa jika mendapatkan setetes air Gangga. Belasan tahun saya melihat wajah-wajah yang begitu cerah dan “mekar” begitu saya perlihatkan air suci Gangga. Bahkan kadang saking banyaknya umat yang memerlukan, saya terpaksa mencampurnya dengan air suci dari berbagai tempat suci di Indonesia. Banyak diantara mereka tidak mau menerimanya tanpa “menyambut” Gangga dengan canang. Indah sekali….<br />
Suatu kali, di sebuah pertemuan keagamaan di New Delhi, seorang ibu-ibu dengan begitu bersemangat dan bangga mengatakan pujiannya terhadap pencuri. Ia mengatakan, “Dhanya hai aisaa chor…” (terpujilah seorang pencuri…)<br />
Ceritanya, ia mengunjungi Bali, bertemu dengan banyak kenalan. Pada setiap kenalan ia memberikan sedikit air Gangga. Lama kelamaan, sesampai di Jakarta, ia merasa tidak mampu memberikan teman-temannya yang banyak. Akhirnya ia memutuskan untuk menaruhnya (ngelinggihang) di pura Rawamangun. Tetapi, seorang teman Indonesianya melarang dan mengatakan, “Jangan…, jangan ditempatkan di pura…”<br />
Ibu itu bertanya, “Kenapa???” Teman Indonesianya yang ternyata adalah Pedanda Puniaatmaja (semasih walaka) mengatakan, “Nanti dicuri orang….” Ibu itu segera menjawab, “Wah baru kali ini saya mendengar seorang pencuri seperti itu. Saya mencakupkan tangan menghormat untuk pencuri itu. Terpujilah pencuri seperti itu…”</p>
<p>(Hadirin pun bertepuk tangan ramai mendengarkan cerita Ibu tersebut, Dr. Shashi).<br />
Gangga dijaga kebersihannya oleh masyarakat tanpa komando. Mereka biasanya tidak berani mencuci pakaiannya dengan sabun di sungai Gangga, mandi di sungai Gangga tidak memakai sabun, tidak membuang kotoran ke Gangga, tidak dahak dan tidak berani kencing di sungai gangga. Semua larangan tersebut dilakukan tanpa ada yang memberitahukan dan tanpa pernah ada tulisan larangan membuang sampah/kotoran di sekitar sungai Gangga. Kitab-kitab suci menjelaskan keagungan dan kemuliaan Gangga secara panjang lebar. Para sarjana duniawi juga mengadakan berbagai penyelidikan ilmiah dengan test labnya bertahun-tahun untuk memuji kemuliaan Gangga. Mereka yang mengalami mandi di Gangga pun mengagung-agungkan kemuliaan Gangga, dengan berbagai pengalaman mulai dari kesembuhan dari penyakit sampai dengan ketenangan rumah tangganya. Gangga disebutkan sebagai tempat “linggih” atau stana seluruh dewa-dewi, sebagai penganugrah Catur Purusartha yaitu Dharma (sifat-sifat agung di dalam diri), Artha (kelengkapan kesenangan-kesenangan duniawi), Kama (pemuasan keinginan-keinginan) dan Moksa (pembebasan dari ikatan-ikatan duniawi), sebagai penghapus segala jenis dosa dan lain-lain. Sebagai penganugrah kesejahteraan umat manusia sesuai dengan tingkat sraddha dan penyerahan dirinya (bhavanurapato visno sada sarva-jagaddhita), pengantar keberhasilan di dunia ini dan juga di alam-alam setelah kematian (gangga hi sarva-bhutanam ihamutra phala-prada). Sekitar tahun 1980-an, saya sempat mengunjungi Triveni/Prayag, yaitu pertemuan tiga sungai suci Gangga, Yamuna dan Saraswati. Saya menginap di sebuah hotel di kota. Pagi-pagi pkl 4 dini hari, saya sudah antre bersama puluhan ibu-ibu tua untuk naik bus yang akan membawa kami ke Campuhan Triveni. Yang menarik, Ibu-Ibu tersebut bukanlah pendatang melainkan adalah penduduk setempat dan setiap pagi pkl. 4 mengawali hidupnya dengan mandi di Campuhan Triveni. Berbahagialah Ibu-Ibu itu, dan saya beruntung pernah antre dengan beliau-beliau yang beruntung itu. Ibu-Ibu tersebut tidak meninggalkan kebiasaan mandi paginya di Gangga bahkan pada musim dingin di bulan Desember dan Januari. Mereka tetap berbaris antre menunggu bus. Saya ingat, waktu itu beliau-beliau yang tua ternyata tidak menggigil. Sedangkan saya yang masih muda waktu itu “ngrietang gigi” kedinginan. </p>
<p>Mereka meyakini bahwa dengan mandi di Gangga, dengan hanya menyentuh air suci Gangga segala dosanya akan terhapuskan. Dan itu disebutkan pula di kitab-kitab suci, bahwa dosa-dosa dapat dihapuskan atau dimusnahkan hanya dengan menyentuh air suci Gangga, sebagaimana Agni atau api menyentuh kapas dan seketika itu langsung memusnahkannya (tulasailah sphulinggena yatha nasyati tat-ksanat, tatha dosah pranasyanti ganggambhah sparsanad dhruvam).<br />
Kebahagiaan yang didapatkan orang setelah mandi di sungai Gangga disebutkan bahkan tidak dapat dicapai oleh orang walaupun ia melakukan ribuan yajna/korban suci (na sa kratur satair api). “Pumsam” atau orang-orang yang mandi di Gangga mendapatkan kepuasan atau kebahagiaan batin yang tidak terhingga (tustir bhavati). Dan kebahagiaan tersebut tentu saja tidak dapat dijelaskan dengan kata dan kalimat.</p>
<p>Di Bali, kita masih melihat umat Hindu beramai-ramai datang dan mandi ke laut atau sumber air suci pada hari-hari suci, Purnama Tilem, Banyu Pinaruh dan lain-lain. Di India juga kita dapat melihat hal yang sama. Manfaat mandi di Gangga pada hari-hari suci khususnya pada bulan-bulan Vaisakha, Kartika dan Magha.<br />
Jika orang mandi di Gangga pada bulan-bulan suci tersebut, manfaatnya disebutkan ribuan kali lipat (Vaisakhe kartike maghe gangga-snanam sudurlabham, darse satagunam punyam sangkrantau ca sahasrakam). Kata sudurlabham yang terdapat dalam kutipan ini menunjukkan suatu hal yang sangat amat langka didapatkan oleh makhluk hidup di dunia ini. </p>
<p>Gangga juga disebutkan sebagai penghancur segala dosa (papa-nasini), sebagai sangat suci (pavitra) dan Gangga patut selalu disembah oleh mereka yang mempunyai keyakinan (manyeyam sarvada loke), oleh mereka yang hatinya telah dibersihkan oleh keraguan-keraguan akibat campur tangan pertimbangan logika berlebihan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-9</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 14:42:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-9</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Detoksifikasi dan Puasa Ekadasi&lt;/strong&gt;

Toksin atau racun merupakan salah satu sumber utama terjadinya penyakit di dalam tubuh. Toksin bukan hanya berupa ampas dari makanan yang kita makan dan makanan-makanan yang tidak tercerna, tetapi juga bisa berasal dari non-makanan seperti udara, zat/makanan aditif, logam berat pada air, bahan kimia industri, residu obat-obat farmasi dan sebagainya. Bahkan, pikiran dan emosi negatif (seperti marah, iri hati, benci) juga merupakan toksin bagi sel-sel tubuh. Disamping itu toksin juga diproduksi secara alamiah oleh tubuh kita sendiri.
	Normalnya toksin atau racun ini akan dikeluarkan oleh tubuh secara alamiah setiap hari melalui sistem pembuangan (ekskresi) tubuh. Namun jika pembuangan toksin ini tidak berjalan secara normal, maka ia akan mulai merusak jaringan organ-organ vital dan akhirnya menjadi penyakit.
	Penelitian telah banyak membuktikan kelebihan toksin dalam tubuh (toxity) berkaitan erat dengan penuaan dini, dan juga penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung (pembunuh nomor satu) dan penyakit  lainnya seperti liver, diabetes, kanker dan sebagainya.
	Untuk mencegah dan menghindari toksin yang tak bisa keluar dengan semestinya dapat kita lakukan suatu cara percepatan pengeluaran toksin dengan cara detoksifikasi.
Apa Sich detoksifikasi itu?
	Detoksifikasi merupakan proses pengeluaran toksin atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh. Puasa merupakan salah satu metode detoksifikasi yang paling efektif dan berumur paling tua yang sudah dilakukan sejak dahulu, disamping itu juga ada cara detoksifikasi dengan penggunaan herbal atau obat-obatan.
	Namun metode detoks yang paling aman 
dan mudah adalah juice fasting, yaitu puasa yang menghindari makanan padat dan pembentuk acid /asam dan hanya mengkonsumsi jus buah segar saja sepanjang hari dalam porsi tertentu. 
Tradisi veda juga menganjurkan kita untuk melaksanakan puasa ekadasi, yaitu puasa yang biasanya jatuh dua kali setiap bulan, biasanya 4 hari sebelum bulan purnama atau tilem (lihat kalender Vaisnava). Hari Ekadasi dianggap hari yang bertuah untuk

mengembangkan tingkat spiritual, dengan cara melakukan dengan puasa penuh atau puasa dari biji-bijian. Oleh karena itu hari ekadasi disamping dapat meningkatkan daya spiritual kita maka dapat juga kita manfaatkan sebagai metode detoks untuk memulihkan kembali kesegaran tubuh dengan cara hanya minum jus dengan jumlah tertentu.
Detoksifikasi penting bagi manusia modern karena pola makan yang buruk, seperti kurang serat, banyak goreng-gorengan dan banyak zat aditif dan pengawet. Maka dengan body yang fit kita dapat meningkatkan seva pada Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi teraturlah berpuasa Ekadasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Detoksifikasi dan Puasa Ekadasi</strong></p>
<p>Toksin atau racun merupakan salah satu sumber utama terjadinya penyakit di dalam tubuh. Toksin bukan hanya berupa ampas dari makanan yang kita makan dan makanan-makanan yang tidak tercerna, tetapi juga bisa berasal dari non-makanan seperti udara, zat/makanan aditif, logam berat pada air, bahan kimia industri, residu obat-obat farmasi dan sebagainya. Bahkan, pikiran dan emosi negatif (seperti marah, iri hati, benci) juga merupakan toksin bagi sel-sel tubuh. Disamping itu toksin juga diproduksi secara alamiah oleh tubuh kita sendiri.<br />
	Normalnya toksin atau racun ini akan dikeluarkan oleh tubuh secara alamiah setiap hari melalui sistem pembuangan (ekskresi) tubuh. Namun jika pembuangan toksin ini tidak berjalan secara normal, maka ia akan mulai merusak jaringan organ-organ vital dan akhirnya menjadi penyakit.<br />
	Penelitian telah banyak membuktikan kelebihan toksin dalam tubuh (toxity) berkaitan erat dengan penuaan dini, dan juga penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung (pembunuh nomor satu) dan penyakit  lainnya seperti liver, diabetes, kanker dan sebagainya.<br />
	Untuk mencegah dan menghindari toksin yang tak bisa keluar dengan semestinya dapat kita lakukan suatu cara percepatan pengeluaran toksin dengan cara detoksifikasi.<br />
Apa Sich detoksifikasi itu?<br />
	Detoksifikasi merupakan proses pengeluaran toksin atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh. Puasa merupakan salah satu metode detoksifikasi yang paling efektif dan berumur paling tua yang sudah dilakukan sejak dahulu, disamping itu juga ada cara detoksifikasi dengan penggunaan herbal atau obat-obatan.<br />
	Namun metode detoks yang paling aman<br />
dan mudah adalah juice fasting, yaitu puasa yang menghindari makanan padat dan pembentuk acid /asam dan hanya mengkonsumsi jus buah segar saja sepanjang hari dalam porsi tertentu.<br />
Tradisi veda juga menganjurkan kita untuk melaksanakan puasa ekadasi, yaitu puasa yang biasanya jatuh dua kali setiap bulan, biasanya 4 hari sebelum bulan purnama atau tilem (lihat kalender Vaisnava). Hari Ekadasi dianggap hari yang bertuah untuk</p>
<p>mengembangkan tingkat spiritual, dengan cara melakukan dengan puasa penuh atau puasa dari biji-bijian. Oleh karena itu hari ekadasi disamping dapat meningkatkan daya spiritual kita maka dapat juga kita manfaatkan sebagai metode detoks untuk memulihkan kembali kesegaran tubuh dengan cara hanya minum jus dengan jumlah tertentu.<br />
Detoksifikasi penting bagi manusia modern karena pola makan yang buruk, seperti kurang serat, banyak goreng-gorengan dan banyak zat aditif dan pengawet. Maka dengan body yang fit kita dapat meningkatkan seva pada Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi teraturlah berpuasa Ekadasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di dharma oleh putungelahne</title>
		<link>http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-8</link>
		<dc:creator>putungelahne</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 14:42:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://putungelahne.wordpress.com/2007/12/05/dharma/#comment-8</guid>
		<description>[hindu] Analogi (was apakah Tuhan itu ada?)

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan 
merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat 
pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan 
berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih 
tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,&quot;Saya tidak percaya Tuhan itu ada&quot;.
&quot;Kenapa kamu berkata begitu ???&quot; timpal si konsumen.
&quot;Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari 
bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku,  jika Tuhan itu ada, Adakah 
yang   sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan  ada, tidak akan ada 
sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha 
Penyayang   akan membiarkan ini semua terjadi.&quot;
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak,  tapi tidak merespon karena dia 
tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi 
meninggalkan tempat si tukang cukur.  Beberapa saat setelah dia meninggalkan 
ruangan itu dia melihat ada orang di  jalan dengan rambut yang panjang, 
berombak kasar mlungker-mlungker-istilah  jawa-nya&quot;, kotor dan brewok  yang 
tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,&quot; Kamu tahu, sebenarnya 
TIDAK ADA TUKANG CUKUR.&quot;
Si tukang cukur tidak terima,&quot; Kamu kok  bisa bilang begitu ??&quot;.&quot;Saya disini 
dan saya tukang cukur. Dan barusan saya  mencukurmu!&quot;
&quot;Tidak!&quot;  elak si konsumen. &quot;Tukang cukur  itu tidak ada, sebab jika ada, 
tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti 
orang yang di luar sana&quot;, si konsumen menambahkan.
&quot;Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!&quot;,  sanggah si tukang cukur. &quot; Apa 
yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang 
ke saya&quot;, jawab si tukang cukur membela diri.
&quot;Cocok!&quot;-kata si konsumen menyetujui.&quot;Itulah point utama-nya!. Sama dengan 
Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa  yang terjadi... orang-orang 
TIDAK MAU 
DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak 
yang 
sakit dan tertimpa kesusahan di dunia  ini.&quot;
Si tukang cukur terbengong !!!!

 
-bukan tulisan tyange




_______________________________________________
Hindu-Dharma mailing list</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[hindu] Analogi (was apakah Tuhan itu ada?)</p>
<p>Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan<br />
merapikan brewoknya.<br />
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat<br />
pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan<br />
berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih<br />
tentang Tuhan.<br />
Si tukang cukur bilang,&#8221;Saya tidak percaya Tuhan itu ada&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa kamu berkata begitu ???&#8221; timpal si konsumen.<br />
&#8220;Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan&#8230;. untuk menyadari<br />
bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku,  jika Tuhan itu ada, Adakah<br />
yang   sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan  ada, tidak akan ada<br />
sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha<br />
Penyayang   akan membiarkan ini semua terjadi.&#8221;<br />
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak,  tapi tidak merespon karena dia<br />
tidak ingin memulai adu pendapat.</p>
<p>Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi<br />
meninggalkan tempat si tukang cukur.  Beberapa saat setelah dia meninggalkan<br />
ruangan itu dia melihat ada orang di  jalan dengan rambut yang panjang,<br />
berombak kasar mlungker-mlungker-istilah  jawa-nya&#8221;, kotor dan brewok  yang<br />
tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.<br />
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,&#8221; Kamu tahu, sebenarnya<br />
TIDAK ADA TUKANG CUKUR.&#8221;<br />
Si tukang cukur tidak terima,&#8221; Kamu kok  bisa bilang begitu ??&#8221;.&#8221;Saya disini<br />
dan saya tukang cukur. Dan barusan saya  mencukurmu!&#8221;<br />
&#8220;Tidak!&#8221;  elak si konsumen. &#8220;Tukang cukur  itu tidak ada, sebab jika ada,<br />
tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti<br />
orang yang di luar sana&#8221;, si konsumen menambahkan.<br />
&#8220;Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!&#8221;,  sanggah si tukang cukur. &#8221; Apa<br />
yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang<br />
ke saya&#8221;, jawab si tukang cukur membela diri.<br />
&#8220;Cocok!&#8221;-kata si konsumen menyetujui.&#8221;Itulah point utama-nya!. Sama dengan<br />
Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa  yang terjadi&#8230; orang-orang<br />
TIDAK MAU<br />
DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak<br />
yang<br />
sakit dan tertimpa kesusahan di dunia  ini.&#8221;<br />
Si tukang cukur terbengong !!!!</p>
<p>-bukan tulisan tyange</p>
<p>_______________________________________________<br />
Hindu-Dharma mailing list</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
